Mengapa Bull Market Lebih Berbahaya dari Bear Market Bagi Investor?
Table of Contents
Sebaliknya, saat bear market (pasar beruang) di mana harga-harga anjlok, investor cenderung lebih berhati-hati dan kerugian yang dialami seringkali lebih terukur, bukan kehancuran total.
Bagaimana mungkin "pesta" di pasar bisa lebih berbahaya daripada "bencana"? Jawabannya terletak pada kombinasi psikologi manusia yang rapuh dan strategi investasi yang keliru. Mari kita bedah alasannya satu per satu.
1. Euforia Mematikan dan Sindrom FOMO (Fear of Missing Out)
Bull market adalah sebuah pesta besar yang memabukkan. Setiap hari Anda melihat portofolio teman Anda hijau, mendengar cerita tetangga beli mobil baru dari keuntungan kripto, dan media sosial dipenuhi dengan screenshot keuntungan fantastis.
Kondisi ini menciptakan dua musuh terbesar investor:
Euforia: Perasaan gembira berlebihan yang membuat kita percaya bahwa harga akan terus naik selamanya. Logika dan analisis rasional mulai dikesampingkan. Kita berpikir, "Tidak mungkin rugi di pasar seperti ini."
FOMO (Fear of Missing Out): Rasa takut ketinggalan kereta. Melihat orang lain untung besar-besaran menciptakan desakan psikologis yang luar biasa untuk "ikut serta" tanpa berpikir panjang, seringkali di harga puncak.
Di bear market, suasananya berbalik. Rasa takut mendominasi, sehingga orang cenderung lebih defensif dan tidak gegabah masuk pasar.
2. Jebakan Mengerikan Bernama Leverage (Daya Ungkit)
Inilah penyebab utama kehancuran total. Leverage atau margin trading adalah fasilitas meminjam uang dari pialang/bursa untuk meningkatkan ukuran posisi investasi Anda.
Contoh Sederhana: Dengan modal $100, Anda bisa menggunakan leverage 10x untuk membuka posisi senilai $1000. Jika harga naik 10%, keuntungan Anda bukan $10 (10% dari $100), melainkan $100 (10% dari $1000). Modal Anda langsung berlipat ganda!
Terdengar indah, bukan? Inilah yang membuat banyak orang tergiur di bull market. Mereka begitu yakin harga akan naik, sehingga berani menggunakan leverage besar untuk memaksimalkan keuntungan.
Sisi Gelapnya: Jika harga turun bahkan hanya sedikit saja, kerugian Anda juga dikalikan 10. Penurunan 10% akan langsung menghapus seluruh modal Anda ($100). Ini disebut likuidasi atau margin call. Anda kehilangan semua uang Anda dalam sekejap.
Di bull market, koreksi tajam sebesar 10-20% dalam satu hari sangat mungkin terjadi. Investor yang terlalu percaya diri dengan leverage besar adalah korban pertama yang akan "dibersihkan" dari pasar. Sebaliknya, di bear market, sangat sedikit orang yang berani menggunakan leverage.
3. Mengabaikan Fundamental, Mengejar "Cerita"
Saat pasar sedang bergairah, narasi dan "cerita" menjadi lebih penting daripada fundamental perusahaan atau proyek. Investor tidak lagi bertanya:
"Apakah perusahaan ini punya laba yang sehat?"
"Apakah teknologi koin ini benar-benar berguna?"
Pertanyaan mereka berubah menjadi:
"Saham/koin apa yang akan 'terbang' selanjutnya?"
"Influencer A bilang aset ini akan naik 100x, haruskah saya beli?"
Akibatnya, uang mengalir deras ke aset-aset spekulatif, meme coins tanpa kegunaan, atau saham "gorengan" yang nilainya digerakkan oleh rumor, bukan kinerja. Aset-aset seperti ini bisa naik ribuan persen, namun juga bisa jatuh 99% dalam semalam saat euforia mereda, meninggalkan investor yang masuk belakangan dengan kerugian besar.
4. Sindrom "This Time Is Different" (Kali Ini Berbeda)
Setiap puncak bull market selalu diiringi dengan keyakinan bahwa "kali ini berbeda." Investor percaya bahwa ada paradigma baru, teknologi revolusioner, atau kondisi ekonomi yang membuat aturan-aturan lama tidak lagi berlaku. Mereka mengabaikan sejarah bahwa setiap bull run pasti akan diakhiri dengan koreksi atau bear market.
Keyakinan buta ini membuat mereka tidak menyiapkan strategi keluar (exit strategy), tidak mengambil untung secara berkala, dan terus menahan asetnya bahkan ketika tanda-tanda pembalikan arah mulai muncul.
Kenapa di Bear Market Justru Lebih "Aman"?
Di bear market, investor tidak dihancurkan dalam satu malam. Kerugiannya lebih terasa seperti "pendarahan lambat". Karena suasana penuh ketakutan, investor cenderung:
Tidak menggunakan leverage.
Lebih selektif dalam memilih aset.
Memegang lebih banyak uang tunai.
Menjual aset untuk membatasi kerugian, bukan all-in di puncak.
Meskipun portofolio mereka mungkin turun nilainya, mereka jarang kehilangan 100% modalnya karena tidak ada mekanisme likuidasi yang tiba-tiba seperti pada margin trading.
Cara Bertahan di Pesta Bull Market
Bull market adalah peluang luar biasa, tetapi juga ladang ranjau yang paling berbahaya. Kunci untuk tidak menjadi korban adalah disiplin dan manajemen risiko.
Miliki Rencana: Tentukan kapan Anda akan masuk, di harga berapa Anda akan mengambil untung (take profit), dan di level mana Anda akan membatasi kerugian (stop loss). Patuhi rencana itu!
Hindari Leverage Berlebihan: Jika Anda bukan seorang trader profesional, jauhi leverage. Jika tetap ingin mencoba, gunakan dengan nominal yang sangat kecil, yang siap Anda relakan untuk hilang.
Jangan FOMO: Selalu akan ada peluang lain. Ketinggalan satu kereta lebih baik daripada melompat ke kereta yang salah dan jatuh ke jurang.
Lakukan Riset Anda Sendiri (DYOR): Jangan membeli aset hanya karena ikut-ikutan. Pahami apa yang Anda beli.
Ambil Untung: Tidak ada yang salah dengan merealisasikan keuntungan. Mengubah keuntungan di atas kertas menjadi uang nyata di rekening bank adalah tindakan investor cerdas.
Ingatlah pepatah pasar yang terkenal: "Bull markets can make you money, but bear markets will make you rich." Artinya, keuntungan sesungguhnya datang dari kemampuan untuk bertahan, belajar, dan mengakumulasi aset berkualitas saat harganya murah di bear market, bukan dari pertaruhan nekat di puncak euforia bull market.
.png)
Posting Komentar