Saat Investor Cemas Karena Rugi, Mereka Cemas Tak Bisa Makan
Table of Contents
Anda menatap layar itu. Hati Anda mungkin sedikit berdebar. Cemas, mungkin. Berharap, tentu saja. Anda melihat angka yang berwarna merah, dan helaan napas berat keluar dari mulut Anda. "Rugi lagi," begitu mungkin batin Anda berbisik. Anda merasa hari ini begitu berat.
Sekarang, izinkan saya mengajak Anda berhenti sejenak. Tarik napas dalam-dalam. Karena saya akan menceritakan tentang kerugian yang sesungguhnya.
Di balik layar laptop Anda, di luar jendela kamar Anda yang nyaman, ada sebuah dunia yang sedang bertaruh nyawa. Di sana, kerugian tidak diukur dengan persentase. Kerugian diukur dengan denting piring yang kosong dan isak tangis anak yang menahan lapar.
Di sebuah gang sempit, ada seorang ayah yang semalam tidak bisa tidur. Bukan karena memikirkan saham yang anjlok, tapi memikirkan bagaimana caranya menjawab pertanyaan anaknya besok pagi, "Ayah, hari ini kita makan apa?" Harga dirinya sebagai kepala keluarga terasa luruh, remuk redam ditelan keadaan. Pegangannya bukan lagi slip gaji, tapi doa yang ia rapalkan dengan suara bergetar.
Di sebuah kontrakan kecil, ada seorang ibu yang diam-diam menambahkan lebih banyak air ke dalam panci susu anaknya, berharap si kecil tidak menyadari bahwa rasanya semakin tawar. Ia tersenyum pada anaknya, senyum yang begitu indah namun begitu pedih, menyembunyikan perutnya sendiri yang keroncongan sejak kemarin. Aset terbesarnya saat ini adalah kemampuannya untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Mereka tidak punya portofolio. Mereka tidak punya pilihan untuk "cut loss" atau "average down". Kehidupanlah yang setiap hari melakukan "cut loss" pada mimpi-mimpi mereka. Kehilangan bagi mereka bukanlah angka di layar. Kehilangan bagi mereka adalah martabat, masa depan, dan kadang, nyawa.
Lalu, siapa kita?
Siapa kita yang berani mengeluh karena keuntungan kita tidak maksimal? Siapa kita yang merasa dunia akan berakhir hanya karena aset kita terkoreksi beberapa persen? Kerugian kita, kecemasan kita, jika disandingkan dengan perjuangan mereka, terasa begitu manja. Begitu memalukan.
Aset yang masih Anda miliki saat ini—berapapun nilainya—bukan lagi sekadar instrumen finansial. Itu adalah sebuah monumen keberuntungan. Sebuah tugu pengingat betapa jauhnya garis start kita dibandingkan mereka.
Maka, jika setelah membaca ini ada air mata yang menetes, jangan ditahan. Biarkan ia jatuh. Biarlah air mata itu menjadi saksi bahwa hati nurani kita masih hidup. Biarlah ia menjadi doa hening untuk setiap ayah yang kehilangan harapan, setiap ibu yang menahan lapar, dan setiap anak muda yang mimpinya direnggut paksa.
Peganglah aset Anda. Jaga baik-baik. Tapi setelah ini, saat Anda melihatnya, semoga Anda tidak hanya melihat angka.
Semoga Anda melihat wajah-wajah mereka. Dan semoga, di dalam hati Anda yang paling dalam, tumbuh sebuah janji: untuk tidak pernah lagi lupa bersyukur.
Indonesia, semoga lekas pulih. Karena di setiap sudutmu, ada tangis yang sudah terlalu lelah untuk bersuara.

Posting Komentar