Apa Itu Cost of Trading? Panduan Lengkap Biaya dalam Financial Market
Banyak trader atau investor pemula terjebak dalam pemikiran matematika sederhana:
"Kalau saya beli saham/kripto di harga 1000, lalu saya jual di 1100, berarti untung saya 100 perak, kan?"
Jawabannya: Belum tentu.
Dalam financial market, keuntungan kotor (gross profit) tidak sama dengan uang yang masuk ke kantong Anda (net profit). Ada "penumpang gelap" bernama Biaya (Cost) yang akan menggerogoti profit Anda jika tidak diperhitungkan dengan matang.
Mari kita bedah konsep biaya ini dengan bahasa manusia, bukan bahasa robot.
1. Spread: Biaya "Selisih Harga"
Bayangkan Anda pergi ke Money Changer di bandara. Anda melihat dua harga di papan: Harga Beli (Bid) dan Harga Jual (Ask). Jarak antara kedua harga itulah yang disebut Spread.
Konsep Sederhana: Spread adalah upah yang diambil oleh penyedia pasar (broker/bursa) karena telah menyediakan likuiditas untuk Anda.
Contoh: Di aplikasi trading, harga Bitcoin mungkin tertera $90.000. Tapi saat Anda klik tombol "Buy", harga yang Anda dapatkan adalah $90.050. Selisih $50 itu adalah biaya spread.
Bahayanya: Jika Anda sering keluar-masuk pasar (scalping), spread ini bisa memakan porsi besar dari modal Anda tanpa Anda sadari.
2. Komisi (Commission): Tiket Masuk
Ini adalah biaya yang paling transparan. Sama seperti biaya administrasi saat Anda transfer antar-bank.
Konsep Sederhana: Biaya jasa yang Anda bayar kepada broker karena telah memfasilitasi transaksi Anda.
Sifatnya: Ada yang flat (misal: Rp5.000 per transaksi) atau persentase (misal: 0.1% dari total transaksi).
Tren Saat Ini: Banyak broker sekarang menawarkan "Zero Commission", namun biasanya mereka melebarkan Spread sebagai gantinya. Ingat, there is no such thing as a free lunch.
3. Swap / Overnight Fee: Biaya Menginap
Ini khusus bagi Anda yang trading di pasar derivatif (Forex atau Futures) dan membiarkan posisi terbuka hingga keesokan harinya.
Konsep Sederhana: Bayangkan Anda menyewa ruko. Jika Anda masih menempati ruko itu sampai lewat tengah malam, Anda kena biaya sewa tambahan.
Mekanisme: Swap muncul karena adanya perbedaan suku bunga antar mata uang yang dipertukarkan atau biaya pinjaman dana (leverage).
Positif/Negatif: Uniknya, Swap bisa negatif (Anda bayar) atau positif (Anda dibayar), tergantung aset apa yang Anda pegang.
4. Slippage: Biaya "Terpeleset"
Ini adalah biaya tak terlihat yang sering bikin trader kesal. Ini terjadi saat pasar sedang sangat volatile (bergerak liar).
Konsep Sederhana: Anda memesan ojek online dengan tarif Rp15.000, tapi karena hujan badai dan macet total, tarif tiba-tiba berubah jadi Rp25.000 saat Anda klik order.
Di Market: Anda pasang order beli di harga 100. Tiba-tiba ada berita besar, harga loncat, dan order Anda baru terpenuhi di harga 105. Selisih 5 poin itu adalah biaya akibat ketidaksiapan likuiditas pasar di harga yang Anda minta.
5. Opportunity Cost: Biaya Kesempatan
Ini adalah konsep biaya paling abstrak tapi paling mahal. Ini bukan uang yang hilang dari dompet, tapi uang yang gagal Anda dapatkan.
Konsep Sederhana: Anda punya modal Rp10 Juta. Anda belikan saham gorengan yang kemudian "nyangkut" dan tidak bergerak selama setahun.
Biayanya: Biayanya adalah potensi keuntungan yang hilang seandainya Rp10 Juta itu Anda taruh di instrumen aman (seperti SBN atau Deposito) atau aset lain yang sedang naik daun. Uang Anda "terpenjara" dan tidak produktif.
Kesimpulan: Net Profit is King
Dalam bisnis trading dan investasi, fokuslah pada Net Profit.
Rumus mental yang harus Anda pegang adalah:
Jangan sampai Anda merasa "cuan" karena harga aset naik, padahal sebenarnya modal Anda tergerus oleh biaya-biaya yang tidak Anda sadari. Jadilah pedagang yang cerdas, yang menghitung setiap sen biaya operasionalnya.

Posting Komentar