ZMedia Purwodadi

Apa Itu Financial Burnout? Penyebab Rasa Lelah dan Apatis Mengatur Keuangan

Table of Contents

Pernahkah Anda berada di titik di mana melihat saldo rekening tidak lagi memicu emosi apa pun? Bukan sedih karena kurang, bukan senang karena bertambah. Rasanya datar. Hampa.

Anda mungkin berpikir, "Ah, ya sudahlah. Ada uang di dompet syukur, kalau habis ya sudah."

Sikap ini sering disalahartikan sebagai "pasrah" atau "bersyukur", padahal dalam ilmu psikologi keuangan, ini adalah tanda bahaya. Ini adalah gejala dari apa yang disebut sebagai Financial Burnout.

Apa Itu Financial Burnout?

Secara sederhana, financial burnout adalah kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional yang disebabkan oleh stres berkepanjangan dalam mengelola atau memikirkan uang.

Bayangkan otak Anda seperti sebuah mesin mobil. Jika Anda terus-menerus menginjak gas (memikirkan investasi, berhemat, mencari cuan, memantau pasar) tanpa istirahat, mesin itu akan kepanasan (overheat). Saat overheat, mesin tidak akan meledak, melainkan mati mendadak.

Itulah yang terjadi pada mental Anda. Anda tidak lagi peduli bukan karena Anda sombong, tapi karena sistem saraf Anda sedang melakukan shutdown demi melindungi diri dari stres yang berlebihan.

Kenapa Kita Bisa "Muak" dan Tidak Peduli Lagi?

Mungkin terdengar aneh: "Bukankah semua orang ingin uang? Kenapa saya justru muak?"

Berikut adalah alasan psikologis mengapa fase "masa bodoh" ini terjadi:

1. Kelelahan Pengambilan Keputusan (Decision Fatigue) Setiap hari kita dipaksa membuat keputusan finansial: Beli ini atau itu? Saham ini naik atau turun? Hemat atau jajan? Otak manusia memiliki batas energi untuk mengambil keputusan. Ketika "kuota" itu habis karena terlalu sering cemas soal uang, otak akan menolak untuk peduli lagi. Sikap "yaudah aja" adalah cara otak beristirahat.

2. Disosiasi Emosional (Mati Rasa) Ketika tekanan untuk sukses secara finansial terlalu besar, atau ketika Anda mengalami kerugian/kegagalan berulang kali, otak akan memutus hubungan emosional dengan sumber rasa sakit tersebut (dalam hal ini: uang). Anda menjadi apatis. Uang di dompet hanya terlihat sebagai kertas, dan angka di layar HP hanya sekadar piksel, bukan lagi sesuatu yang berharga.

3. Hilangnya "Reward System" Normalnya, mendapatkan uang memicu hormon dopamin (rasa senang). Namun, pada tahap burnout, reseptor dopamin Anda sudah tumpul karena terlalu sering terpapar stres atau obsesi mengejar target. Akibatnya, punya uang tidak lagi terasa menyenangkan.

Tanda-Tanda Anda Sedang Mengalaminya

Selain rasa "muak", tanda-tanda spesifik lainnya meliputi:

  • Menghindari Fakta: Anda malas membuka aplikasi banking atau mengecek portofolio investasi. Bukan karena takut, tapi karena malas melihatnya.

  • Pengeluaran Impulsif yang Aneh: Anda mungkin tiba-tiba membeli sesuatu bukan karena butuh, tapi karena "biar uangnya habis saja".

  • Sinisme: Anda merasa lelah melihat orang lain bicara soal kesuksesan, saham, atau kripto. Rasanya ingin menutup telinga.

Apakah Ini Buruk?

Dalam jangka pendek, ini adalah mekanisme pertahanan diri yang wajar. Tubuh Anda meminta jeda. Namun, jika dibiarkan, sikap "tidak peduli" ini bisa berbahaya karena membuat Anda mengabaikan kewajiban finansial yang penting.

Apa yang Harus Dilakukan?

Jika Anda merasa "yaudah aja gtu" terhadap uang saat ini:

  1. Terima Perasaan Itu: Jangan menyalahkan diri sendiri karena merasa tidak ambisius. Akuilah, "Oke, saya sedang lelah dengan urusan uang."

  2. Detoks Informasi: Berhentilah melihat grafik pasar, berhenti membaca berita ekonomi, atau unfollow akun-akun "motivator sukses" untuk sementara waktu.

  3. Otomatisasi: Jika bisa, buat sistem otomatis untuk tabungan atau tagihan, lalu lupakan. Biarkan sistem berjalan tanpa Anda perlu memikirkannya.

  4. Cari Kebahagiaan Non-Materi: Kembalikan sensitivitas rasa Anda dengan hal-hal yang tidak ada harganya. Tidur yang cukup, jalan kaki sore, atau main game tanpa memikirkan top-up.

Kesimpulan

Merasa muak dengan uang bukan berarti Anda gagal atau tidak bersyukur. Itu adalah tanda bahwa Anda manusia, bukan kalkulator. Terkadang, untuk bisa kembali semangat mengatur keuangan, Anda harus berani untuk "masa bodoh" sejenak demi memulihkan kewarasan mental Anda.

Posting Komentar