Frugal Living untuk Anak Muda: Mengapa Sulit Dilakukan dan Bagaimana Solusinya?
Belakangan ini, istilah frugal living sering berseliweran di media sosial. Ada yang memamerkan keberhasilan menabung ratusan juta di usia muda, tapi ada juga yang mencibir bahwa gaya hidup ini sama saja dengan menyiksa diri.
Pertanyaan besarnya adalah: Apakah konsep ini relevan dan bisa diterapkan oleh anak muda zaman sekarang?
Jawabannya: Bisa, tapi sangat menantang.
Sebelum kita membahas mengapa hal ini sulit, mari kita luruskan dulu definisinya. Frugal living bukanlah tentang menjadi pelit atau makan mie instan setiap hari demi menabung. Frugal living adalah seni memprioritaskan pengeluaran. Anda sadar penuh ke mana uang Anda pergi—memangkas biaya untuk hal yang tidak penting bagi Anda, demi bisa membelanjakan uang untuk hal yang benar-benar Anda impikan (seperti rumah, investasi, atau dana pensiun).
Lantas, jika konsepnya sebagus itu, mengapa anak muda merasa sangat berat melakukannya? Berikut adalah analisis sederhananya.
Mengapa Frugal Living Terasa Sangat Sulit?
1. Gempuran "Validasi" Media Sosial (FOMO)
Ini adalah musuh terbesar. Di Instagram atau TikTok, kita setiap hari disuguhi visual teman-teman yang sedang traveling, makan di restoran fancy, atau membeli gadget terbaru. Secara tidak sadar, otak kita merekam standar hidup itu sebagai "standar normal". Timbul rasa takut tertinggal (Fear of Missing Out/FOMO) jika tidak mengikuti tren tersebut. Akibatnya, uang habis bukan untuk kebutuhan, tapi untuk "kebutuhan terlihat mampu."
2. Budaya "Self-Reward" yang Kebablasan
Anak muda masa kini bekerja di lingkungan yang tekanannya tinggi (hustle culture). Sebagai kompensasinya, muncul tren self-reward atau "penghargaan diri" yang seringkali impulsif. Kalimat "Aku berhak beli kopi mahal ini karena sudah lembur" adalah pembenaran yang wajar, namun jika dilakukan setiap hari, konsep reward berubah menjadi kebocoran finansial yang masif.
3. Biaya "Nongkrong" adalah Biaya Sosial
Bagi generasi sebelumnya, bersosialisasi mungkin cukup dengan bertamu ke rumah. Bagi anak muda sekarang, bersosialisasi identik dengan coffee shop atau kafe yang estetik. Menolak ajakan nongkrong seringkali dianggap antisosial atau memutus koneksi. Akhirnya, banyak anak muda yang terpaksa mengeluarkan uang demi menjaga lingkaran pertemanan, padahal kondisi dompet sedang tidak mendukung.
4. Ilusi Kemudahan "Paylater"
Kemudahan akses Paylater dan pinjaman online membuat kita merasa memiliki uang lebih banyak dari yang sebenarnya kita punya. Ilusi ini sangat berbahaya karena mengaburkan batas antara kemampuan finansial nyata dan utang. Membeli barang konsumtif menjadi terlalu mudah, dan dampaknya baru terasa saat tagihan datang.
Bagaimana Cara Melakukannya Tanpa Merasa Tersiksa?
Meskipun sulit, frugal living sangat mungkin dilakukan jika kita mengubah pola pikirnya. Berikut langkah sederhananya:
Ubah Definisi "Keren": Mulailah merasa keren bukan saat Anda memakai barang branded, tapi saat Anda memiliki dana darurat yang aman dan tidak pusing saat tanggal tua.
Aturan 24 Jam: Jika ingin membeli sesuatu di luar kebutuhan pokok, tunda selama 24 jam. Biasanya, keinginan impulsif itu akan hilang dengan sendirinya.
Audit "Bocor Halus": Cek langganan streaming yang jarang ditonton atau biaya admin transfer antar bank. Uang receh ini jika dikumpulkan setahun jumlahnya bisa mengejutkan.
Temukan Kebahagiaan Murah: Bahagia tidak harus mahal. Memasak sendiri, olahraga lari di taman, atau membaca buku di perpustakaan bisa memberikan ketenangan yang sama tanpa menguras kantong.
Kesimpulan
Frugal living bagi anak muda memang sulit karena kita hidup di era yang mendewakan konsumsi. Namun, ini bukan hal yang mustahil. Kuncinya bukan pada seberapa besar Anda menahan diri untuk tidak belanja, melainkan seberapa cerdas Anda memilih mana yang "keinginan sesaat" dan mana yang "kebutuhan masa depan."
Ingat, menjadi frugal bukan berarti berhenti menikmati hidup sekarang, melainkan memastikan Anda tetap bisa menikmati hidup di masa depan.

Posting Komentar