Meluruskan Stigma: Mayoritas Pengangguran Gen Z Adalah Siswa dan Mahasiswa Aktif
Table of Contents
📚 Usia 15-19: Fokus Utama adalah Pendidikan
Kelompok usia 15 hingga 19 tahun, mayoritas, adalah mereka yang masih menempuh pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK) atau sederajat.
Prioritas Utama: Kegiatan utama mereka adalah belajar, bukan mencari pekerjaan penuh waktu.
Definisi Penganggur BPS: Berdasarkan definisi Badan Pusat Statistik (BPS), seseorang dianggap penganggur jika dia tidak bekerja dan sedang mencari pekerjaan, atau sedang mempersiapkan usaha, atau sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja.
Jika seorang siswa SMA (15-17 tahun) aktif mencari pekerjaan sampingan (part-time) dan belum mendapatkannya, secara statistik ia dapat masuk kategori "penganggur" padahal ia sedang sibuk sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa untuk usia ini, "menganggur" lebih sering berarti belum/tidak bekerja karena prioritas mereka adalah menyelesaikan sekolah.
💼 Usia 20-24: Tantangan Kuliah dan Keterbatasan Waktu
Kelompok usia 20 hingga 24 tahun didominasi oleh mahasiswa perguruan tinggi (kuliah) atau mereka yang baru lulus.
1. Mahasiswa: Nganggur Karena Jadwal Padat
Tidak semua mahasiswa dapat bekerja paruh waktu atau magang. Ada beberapa alasan kuat yang perlu dipahami:
Jadwal Kuliah yang Padat: Banyak jurusan, terutama yang bersifat eksakta atau vokasi, memiliki jadwal kuliah dan praktikum yang sangat padat dan tidak teratur. Hal ini secara otomatis menutup peluang mereka untuk mengambil pekerjaan part-time dengan jam kerja yang kaku.
Tuntutan Akademik: Beban tugas, proyek, dan persiapan ujian sering kali memerlukan waktu yang dihabiskan di luar jam kuliah. Prioritas mereka adalah lulus tepat waktu dengan hasil terbaik.
Keterbatasan Lokasi Kerja: Tidak semua daerah memiliki peluang kerja part-time yang fleksibel dan sesuai untuk mahasiswa.
Dalam konteks ini, ketika mahasiswa tidak bekerja, mereka tidak "menganggur" karena tidak mendapatkan pekerjaan, melainkan "menganggur" dalam artian tidak bekerja karena sedang fokus menempuh pendidikan yang merupakan investasi masa depan.
2. Lulusan Baru: Masalah Skill Mismatch
Untuk lulusan baru yang aktif mencari kerja dan masuk dalam TPT tinggi, masalahnya seringkali adalah ketidaksesuaian keterampilan (skill mismatch) atau keterbatasan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan jenjang pendidikan mereka, bukan karena mereka malas.
💡 Kesimpulan: Perlu Sudut Pandang yang Lebih Adil
Mengaitkan tingginya angka pengangguran usia muda secara langsung dengan "kemalasan" Gen Z adalah pandangan yang terlalu sederhana dan tidak adil. Mayoritas usia 15-24 tahun yang masuk dalam statistik pengangguran berada dalam dua kondisi utama:
Fokus Belajar (Sekolah/Kuliah): Mereka menunda bekerja karena sedang berinvestasi pada pendidikan formal yang akan menjadi modal utama mereka di masa depan.
Transisi Kerja (Lulusan Baru): Mereka sedang berjuang di tengah persaingan pasar kerja yang ketat, dan seringkali terkendala oleh skill mismatch atau kurangnya pengalaman kerja yang diminta perusahaan.
Pemerintah, industri, dan lembaga pendidikan perlu berkolaborasi untuk memastikan bahwa kurikulum relevan, kesempatan magang yang fleksibel diperluas, dan pasar kerja semakin terbuka, alih-alih menyalahkan generasi muda yang sejatinya sedang mempersiapkan diri untuk menjadi angkatan kerja produktif.

Posting Komentar