ZMedia Purwodadi

Mengapa Akuntansi Tradisional Tidak Relevan di Dunia Crypto? Ini Penjelasannya

Table of Contents

Dalam dunia bisnis konvensional, akuntan adalah penjaga gawang. Mereka mencatat setiap transaksi, memastikan pembukuan seimbang, dan memverifikasi bahwa uang yang masuk dan keluar itu nyata. Tanpa akuntan, sebuah perusahaan bisa runtuh karena ketidakjelasan finansial.

Namun, di dunia cryptocurrency dan teknologi blockchain, peran ini mengalami pergeseran besar. Banyak orang beranggapan bahwa akuntansi dalam bentuk tradisionalnya tidak lagi "terlalu dibutuhkan" di sini. Mengapa demikian?

Jawabannya terletak pada satu konsep inti: Buku Besar Otomatis yang Tidak Bisa Bohong.

1. Blockchain Adalah Akuntan Itu Sendiri

Bayangkan jika Anda memiliki buku catatan yang ajaib. Setiap kali seseorang membeli sesuatu, buku itu mencatatnya sendiri secara otomatis. Tidak ada yang bisa menghapus tinta di dalamnya, tidak ada yang bisa menyobek halamannya, dan setiap orang di dunia bisa melihat salinan buku tersebut kapan saja.

Itulah Blockchain.

  • Di dunia nyata: Kita butuh akuntan untuk mencatat transaksi di jurnal, memposting ke buku besar, lalu diaudit oleh pihak ketiga untuk memastikan tidak ada korupsi.

  • Di dunia crypto: Blockchain melakukan semua itu secara real-time. Transaksi dicatat secara permanen di ribuan komputer sekaligus. Kita tidak butuh orang tengah (akuntan) untuk memverifikasi kebenaran transaksi tersebut, karena sistem matematika (kriptografi) sudah menjaminnya.


2. Konsep "Triple-Entry Accounting"

Akuntansi yang kita pelajari di sekolah biasanya menggunakan sistem Double-Entry (Debit dan Kredit). Jika sisi kiri dan kanan seimbang, kita anggap itu benar. Tapi, sistem ini masih rentan terhadap human error atau manipulasi laporan keuangan.

Crypto memperkenalkan Triple-Entry Accounting.

  1. Entri Debit (Pihak A)

  2. Entri Kredit (Pihak B)

  3. Entri Ketiga: Verifikasi Publik di Blockchain

Entri ketiga ini adalah bukti kriptografis yang tidak bisa diubah. Karena bukti ini tersedia secara publik dan transparan, kebutuhan akan audit manual yang panjang dan mahal menjadi jauh berkurang. Kita tidak perlu lagi "percaya" pada laporan keuangan perusahaan, kita cukup "memverifikasi" data di blockchain.

3. Transparansi Mutlak vs. Laporan Berkala

Di pasar saham tradisional, investor harus menunggu laporan keuangan kuartalan (setiap 3 bulan) untuk melihat kesehatan perusahaan. Dalam jeda 3 bulan itu, banyak hal buruk bisa disembunyikan.

Di dunia DeFi (Decentralized Finance) atau crypto, "laporan keuangan" itu tersedia setiap detik. Anda ingin tahu berapa banyak aset yang dimiliki sebuah protokol (misalnya Uniswap atau Aave) saat ini juga? Anda bisa melihatnya langsung di smart contract mereka. Anda tidak butuh akuntan untuk merangkumnya di akhir bulan; datanya sudah ada di depan mata.

4. Bukan Hilang, Tapi Berubah

Apakah ini berarti akuntan akan punah? Tidak. Pernyataan bahwa akuntansi "tidak dibutuhkan" sebenarnya kurang tepat. Lebih tepatnya: Akuntansi pencatatan manual (bookkeeping) yang hilang, digantikan oleh audit cerdas.

Di masa depan crypto, peran akuntan bergeser dari "pencatat transaksi" menjadi:

  • Auditor Smart Contract: Memastikan kode program yang menjalankan uang tersebut aman.

  • Ahli Pajak & Regulasi: Membantu menerjemahkan transaksi crypto yang rumit ke dalam aturan pajak negara yang berlaku.

  • Analis Forensik: Melacak aliran dana jika terjadi peretasan.

Kesimpulan

Dunia crypto tidak membutuhkan akuntansi tradisional karena teknologi blockchain telah mengotomatisasi "kejujuran". Kita tidak lagi membutuhkan pihak ketiga untuk menjamin bahwa 1 + 1 = 2, karena kode program telah memastikannya.

Di dunia baru ini, kepercayaan tidak diletakkan pada manusia atau institusi, melainkan pada kode dan matematika.

Posting Komentar