ZMedia Purwodadi

Mengapa Blockchain Mustahil Dimanipulasi? Penjelasan Sederhana untuk Pemula

Table of Contents

Di era digital ini, kita sering mendengar istilah "blockchain" dan reputasinya sebagai benteng keamanan digital yang tak tertembus. Namun, pertanyaan besarnya adalah: Mengapa? Apa yang membuat teknologi ini begitu spesial hingga sering disebut "mustahil untuk dimanipulasi"?

Jawabannya bukan terletak pada satu kunci rahasia, melainkan pada cara kerja sistem itu sendiri. Mari kita bedah konsep rumit ini menjadi analogi yang sederhana.

1. Buku Besar yang Terbuka untuk Semua (Transparansi)

Bayangkan sebuah buku catatan keuangan raksasa di tengah alun-alun kota. Siapa pun boleh datang, melihat, dan menulis transaksi di sana. Namun, ada aturannya: sekali tinta mengering, tulisan itu tidak bisa dihapus atau diubah.

Dalam sistem perbankan tradisional, buku catatan ini disimpan di dalam brankas bank (terpusat). Jika seseorang berhasil membobol brankas itu, mereka bisa mengubah angkanya.

Di blockchain, "buku catatan" ini tidak disimpan di satu tempat. Salinannya dipegang oleh jutaan orang di seluruh dunia secara bersamaan. Jika ada satu orang jahat yang mencoba mengubah angka di buku miliknya, jutaan orang lain akan segera berteriak, "Hei, catatanmu beda sendiri! Itu palsu!" Sistem akan otomatis menolak catatan yang berbeda itu.


2. Rantai yang Saling Mengunci (Kriptografi)

Nama "Blockchain" secara harfiah berarti "Rantai Blok". Bayangkan setiap halaman dalam buku catatan tadi adalah sebuah Blok.

Setiap kali halaman baru (blok baru) penuh dengan transaksi, halaman tersebut disegel dengan kode unik digital yang disebut Hash. Yang menarik, segel halaman baru ini mengandung "potongan" dari segel halaman sebelumnya.

  • Halaman 1 disegel dengan Kode A.

  • Halaman 2 memuat Kode A, lalu disegel menjadi Kode B.

  • Halaman 3 memuat Kode B, lalu disegel menjadi Kode C.

Jika seorang peretas ingin mengubah transaksi di Halaman 1, ia akan merusak Kode A. Karena Kode A berubah, maka Kode B di Halaman 2 tidak lagi cocok, dan Kode C di Halaman 3 juga akan rusak.


Artinya, untuk memanipulasi satu transaksi lama, peretas harus membongkar dan menyegel ulang seluruh halaman setelahnya. Ini membutuhkan upaya yang luar biasa besar.

3. Biaya yang Tidak Masuk Akal (Mekanisme Konsensus)

Untuk mengubah data di blockchain (seperti Bitcoin), Anda tidak hanya butuh keahlian coding, tapi juga tenaga komputasi (listrik dan perangkat keras).

Sistem blockchain menggunakan mekanisme yang disebut Proof of Work (bukti kerja). Untuk menyegel satu halaman, komputer harus memecahkan teka-teki matematika yang sangat rumit. Ini butuh listrik yang besar.

Jika seseorang ingin memanipulasi data, ia harus menguasai lebih dari 51% dari total kekuatan komputer di seluruh jaringan dunia secara bersamaan (dikenal sebagai 51% Attack).

Biaya untuk membeli peralatan dan membayar listrik guna melakukan serangan ini bisa mencapai triliunan rupiah per jam. Bahkan jika berhasil, nilai kepercayaan terhadap jaringan akan hancur, membuat koin yang dicuri menjadi tidak berharga. Secara ekonomis, meretas blockchain adalah tindakan bunuh diri finansial.


Kesimpulan

Blockchain aman bukan karena ia memiliki satu penjaga yang kuat, melainkan karena ia dijaga oleh semua orang. Keamanannya dibangun di atas tiga pilar:

  1. Desentralisasi: Tidak ada satu titik kelemahan pusat.

  2. Keterkaitan Data: Mengubah satu data berarti harus mengubah sejarah keseluruhan.

  3. Biaya Mahal: Usaha untuk menipu jauh lebih mahal daripada keuntungan yang didapat.

Inilah mengapa, hingga hari ini, blockchain dianggap sebagai salah satu inovasi teraman dalam sejarah teknologi informasi. Ia mengubah cara kita percaya: dari percaya pada "pihak ketiga" (bank/institusi), menjadi percaya pada "matematika dan komunitas".


Posting Komentar