ZMedia Purwodadi

Sisi Gelap Blockchain: Mengungkap 4 Hacker Paling Ditakuti dalam Sejarah Crypto

Table of Contents

Dunia aset kripto sering kali dijuluki sebagai Wild West atau era koboi modern. Di satu sisi, ia menawarkan kebebasan finansial dan teknologi revolusioner. Namun, di sisi lain, ada sisi gelap yang menghantui setiap transaksi yaitu para peretas (hacker).

Berbeda dengan perampok bank konvensional yang membutuhkan senjata dan topeng, peretas kripto hanya membutuhkan kode, koneksi internet, dan kecerdasan yang disalahgunakan. Mereka tidak hanya mencuri uang, mereka bisa meruntuhkan kepercayaan pasar dalam hitungan detik.

Berikut adalah profil para peretas dan kelompok yang paling ditakuti dalam sejarah kripto, serta bagaimana mereka mengubah industri ini selamanya.

1. Lazarus Group: Tentara Siber Korea Utara

Jika ada nama yang membuat para pendiri bursa kripto tidak bisa tidur nyenyak, itu adalah Lazarus Group.

  • Siapa Mereka? Mereka bukan sekadar remaja iseng di kamar tidur, melainkan kelompok peretas yang disponsori langsung oleh negara Korea Utara. FBI dan banyak badan intelijen dunia telah mengonfirmasi keterlibatan mereka.

  • Mengapa Mereka Ditakuti? Serangan mereka terstruktur, disiplin, dan brutal. Kasus terbesar mereka adalah peretasan Ronin Bridge (Axie Infinity) pada tahun 2022, di mana mereka berhasil mencuri aset senilai lebih dari $600 juta (sekitar Rp9 triliun).

  • Cara Kerja Sederhana: Mereka sering menggunakan teknik Social Engineering. Alih-alih merusak sistem secara paksa, mereka menipu karyawan perusahaan target (misalnya dengan tawaran pekerjaan palsu via LinkedIn yang berisi dokumen bervirus) untuk mendapatkan akses ke "kunci" brankas digital perusahaan.

2. Peretas Mt. Gox: Sang Penghancur Raksasa

Sebelum ada Binance atau Indodax, ada Mt. Gox. Ini adalah bursa kripto terbesar di dunia pada zamannya, menangani 70% transaksi Bitcoin global.

  • Apa yang Terjadi? Antara tahun 2011 hingga 2014, peretas perlahan-lahan menyedot Bitcoin dari dompet bursa ini tanpa terdeteksi. Puncaknya, Mt. Gox mengumumkan kehilangan 850.000 Bitcoin. Jika dinilaikan dengan harga sekarang, angkanya tak terbayangkan.

  • Dampaknya: Kejadian ini bukan sekadar pencurian, tapi "kiamat kecil" bagi Bitcoin saat itu. Ribuan orang kehilangan tabungan hidup mereka, dan harga Bitcoin anjlok drastis. Hingga kini, identitas pasti sang peretas masih menjadi perdebatan, meski beberapa individu telah ditangkap terkait pencucian uangnya.

3. The DAO Attacker: Pemecah Belah Ethereum

Ini adalah contoh unik di mana seorang peretas tidak hanya mencuri uang, tetapi memaksa sejarah blockchain untuk ditulis ulang.

  • Kasusnya: Pada 2016, sebuah proyek bernama "The DAO" (semacam organisasi investasi otomatis) diluncurkan di jaringan Ethereum. Seorang peretas menemukan celah kecil dalam aturan koding (smart contract) proyek tersebut.

  • Kecerdasan atau Kejahatan? Sang peretas tidak "merusak" sistem; dia hanya memanfaatkan aturan yang ada untuk memindahkan dana $50 juta ke dompetnya sendiri. Dia bahkan menulis surat terbuka yang mengklaim bahwa apa yang dia lakukan adalah legal sesuai kode program yang dibuat pengembang.

  • Akibatnya: Komunitas Ethereum terpecah. Untuk mengembalikan dana tersebut, jaringan Ethereum harus melakukan Hard Fork (memutar balik waktu dan memisahkan jaringan). Inilah yang melahirkan dua koin berbeda: Ethereum (ETH) yang kita kenal sekarang, dan Ethereum Classic (ETC) yang membiarkan peretas tetap memiliki dananya.

4. Mr. White Hat (Poly Network): Peretas "Budiman"

Tidak semua kisah peretasan berakhir tragis. Kasus Poly Network pada 2021 adalah pencurian terbesar yang pernah terjadi, namun dengan plot twist yang aneh.

  • Kronologi: Seorang peretas berhasil membobol protokol Poly Network dan mentransfer aset senilai $610 juta. Ini adalah rekor dunia saat itu.

  • Kejadian Unik: Setelah mencuri dana tersebut, peretas memulai komunikasi dengan tim pengembang. Dia mengaku melakukan itu "hanya untuk bersenang-senang" dan untuk menunjukkan bahwa sistem keamanan mereka lemah.

  • Akhir Cerita: Secara mengejutkan, peretas tersebut mengembalikan hampir seluruh dana yang dicuri. Dia kemudian dijuluki "Mr. White Hat" (Peretas Topi Putih/Etis), meskipun motif aslinya masih diperdebatkan apakah murni niat baik atau karena takut tidak bisa mencairkan dana curian tersebut.

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Para peretas ini mengajarkan kita satu hukum besi di dunia kripto: "Code is Law" (Kode adalah Hukum), namun kode dibuat oleh manusia yang bisa salah.

Bagi kita sebagai investor ritel, kisah-kisah ini adalah pengingat penting untuk:

  1. Tidak menyimpan seluruh aset di satu tempat (bursa).

  2. Menggunakan Cold Wallet (dompet yang tidak terhubung internet) untuk simpanan jangka panjang.

  3. Selalu waspada terhadap link atau tawaran asing, karena bahkan sistem tercanggih pun bisa runtuh karena satu klik yang salah dari manusianya.

Posting Komentar