ZMedia Purwodadi

Skandal Emas Busang: Kisah Penipuan Tambang Bre-X yang Menghebohkan Dunia

Table of Contents

Pernahkah Anda membayangkan menemukan harta karun senilai ribuan triliun rupiah di halaman belakang rumah? Pada tahun 1993, Indonesia sempat menjadi sorotan dunia karena kabar serupa.

Sebuah wilayah antah berantah di Kalimantan Timur bernama Busang diklaim menyimpan cadangan emas raksasa. Tidak main-main, jumlahnya disebut mencapai 53 juta ton. Kabar ini membuat mata investor dunia terbelalak dan pejabat negara tergiur.

Namun, siapa sangka, kabar yang sempat melambungkan nama Indonesia ini berakhir menjadi salah satu skandal penipuan pertambangan terbesar dalam sejarah manusia.

Berikut adalah kronologi bagaimana "Gunung Emas" fiktif ini menipu dunia.

1. Munculnya Bre-X: Dari Perusahaan "Gurem" Jadi Raksasa

Semua bermula dari perusahaan tambang kecil asal Kanada bernama Bre-X Minerals. Awalnya, perusahaan ini hanyalah pemain kecil (gurem) di bursa saham.

Namun, nasib mereka berubah ketika ahli geologi mereka, John Felderhof, dan rekannya, Michael de Guzman, melakukan eksplorasi di hutan tropis Kalimantan Timur selama 12 hari. Mereka keluar dari hutan dengan klaim fantastis: Busang adalah "Gunung Emas".

Bre-X kemudian merilis surat terbuka kepada investor. Mereka menjual mimpi bahwa siapa pun yang menanam modal di Busang akan kaya raya. Strategi ini berhasil total.

2. Demam Emas dan FOMO Para Pejabat

Klaim 53 juta ton emas itu membuat saham Bre-X di Kanada meroket gila-gilaan. Nilai perusahaan yang tadinya tidak seberapa, tiba-tiba melonjak hingga Rp7 triliun (angka yang sangat fantastis di tahun 90-an).

Kehebohan ini sampai ke telinga para elit di Jakarta. Di era Orde Baru, kabar tentang kekayaan alam tentu menarik perhatian lingkaran Cendana (Keluarga Presiden Soeharto).

  • Sigit Harjojudanto (putra Presiden Soeharto) bahkan disebut menerima tawaran US$ 1 juta per bulan agar perusahaannya menjadi konsultan.

  • Bob Hasan (pengusaha dekat Soeharto) langsung bergerak cepat mengakuisisi saham perusahaan mitra Bre-X untuk mengamankan "kue" lezat ini.

Semua orang berebut ingin ambil bagian, karena yakin emas itu nyata.

3. Masuknya Freeport dan Awal Kehancuran

Pesta Bre-X mulai terusik ketika Presiden Soeharto turun tangan. Beliau tidak ingin harta karun ini dinikmati asing sendirian. Pemerintah mewajibkan Bre-X bekerja sama dengan perusahaan tambang raksasa yang sudah terpercaya, yaitu Freeport-McMoran.

Inilah momen "kunci"-nya. Sebagai perusahaan kelas dunia, Freeport tidak bisa asal percaya klaim di atas kertas. Mereka punya prosedur standar: Verifikasi Lapangan.

Tim Freeport dikirim ke Busang untuk mengambil sampel tanah dan mengeceknya di laboratorium independen.

4. Drama Helikopter dan Hilangnya Sang Kunci

Pada tanggal 19 Maret 1997, tepat saat Freeport sedang melakukan pengecekan, terjadilah sebuah drama yang mirip film Hollywood.

Michael de Guzman (Direktur Eksplorasi Bre-X), orang yang paling tahu soal data emas tersebut, dikabarkan bunuh diri. Ia disebut melompat dari helikopter saat perjalanan Samarinda-Busang.

  • Pintu helikopter ditemukan terbuka.

  • Ditemukan surat wasiat.

  • Tim SAR menemukan mayat di hutan yang kondisinya sulit dikenali.

Namun, jurnalis senior Bondan Winarno dalam bukunya "Bre-X: Sebongkah Emas di Kaki Pelangi", mencium bau amis. Ia melakukan investigasi mendalam hingga ke Kanada dan menyimpulkan bahwa mayat itu memiliki ciri fisik yang berbeda dengan Guzman. Dugaan kuat muncul: Guzman masih hidup dan memalsukan kematiannya.

5. Fakta Terungkap: Emasnya Nol Besar

Tak lama setelah drama helikopter itu, Freeport merilis hasil laboratorium mereka. Hasilnya mengejutkan dunia:

"Tanah di Busang tidak mengandung emas."

Ternyata, sampel-sampel emas yang selama ini ditunjukkan Bre-X adalah hasil rekayasa (biasa disebut salting), di mana mereka menaburkan serbuk emas dari luar ke dalam sampel tanah biasa agar terlihat kaya mineral.

Kesimpulan: Penipuan yang Memalukan

Kabar ini meledak. Saham Bre-X langsung terjun bebas hingga tidak berharga. Investor marah besar, bahkan bos Bre-X lainnya, David Walsh, sempat disandera oleh investor yang mengamuk meminta uang kembali.

Indonesia malu, pejabat tertipu, dan investor rugi bandar.

Hingga hari ini, keberadaan Michael de Guzman masih menjadi misteri. Keluarganya tidak pernah melihatnya lagi, namun banyak teori konspirasi,seperti laporan BBC, yang meyakini ia hidup tenang dengan identitas baru di Amerika Selatan, menikmati hasil dari "prank" terbesar abad ini.

Pelajaran Moral: Kasus Busang mengajarkan kita bahwa dalam dunia investasi, ketika sesuatu terdengar too good to be true (terlalu indah untuk jadi kenyataan), biasanya hal itu memang tidak nyata. Emas di Busang hanyalah ilusi yang dibangun di atas keserakahan.

Posting Komentar