Tragedi Lira: Dulu Dipuji Dunia karena Redenominasi, Kini Terpuruk Lagi
Bagi pengamat ekonomi, Turki adalah studi kasus yang sangat menarik sekaligus memilukan. Negara ini pernah dianggap sebagai "bintang kejora" pasar berkembang karena keberhasilannya menyederhanakan mata uang (redenominasi) pada tahun 2005. Namun hari ini, mata uang Lira justru menjadi salah satu yang kinerjanya terburuk di dunia.
Mengapa dulu bisa sukses besar, tapi sekarang malah "sakit" lagi? Mari kita bedah ibarat sebuah bangunan.
Babak 1: Keajaiban 2005 (Suksesnya Redenominasi)
Pada awal tahun 2000-an, inflasi Turki sangat gila. Saking parahnya, untuk membeli sepotong roti saja warga harus membawa uang jutaan Lira. Uang kertas 20.000.000 (dua puluh juta) Lira adalah hal yang lumrah.
Pada tahun 2005, pemerintah Turki melakukan langkah berani: Menghapus 6 angka nol. Uang 1.000.000 Lira Lama menjadi 1 Lira Baru.
Kenapa saat itu berhasil? Banyak orang salah kaprah, mengira keberhasilan itu hanya karena "mencoret nol". Padahal, redenominasi hanyalah "wajah baru". Kesuksesannya didasari oleh "fondasi" yang kuat, yaitu:
Disiplin Anggaran yang Ketat: Pemerintah Turki saat itu (dibawah pengawasan IMF dan reformasi ekonomi) sangat hemat dan tidak boros. Mereka membereskan utang-utang negara.
Bank Sentral yang Independen: Bank Sentral Turki diberi kebebasan penuh. Tidak ada politisi yang boleh ikut campur. Jika ekonomi kepanasan, Bank Sentral bebas menaikkan suku bunga untuk mengeremnya.
Kepercayaan Investor: Karena kebijakannya masuk akal dan transparan, investor asing berbondong-bondong menaruh uang di Turki.
Analogi Sederhana: Ibarat orang yang ingin sehat, Turki saat itu tidak hanya "memotong rambut" agar terlihat rapi (redenominasi), tapi mereka juga rajin "olahraga dan diet ketat" (kebijakan ekonomi yang benar). Hasilnya? Tubuh (ekonomi) jadi sehat dan kuat.
Babak 2: Badai Saat Ini (Kenapa Ambruk Lagi?)
Jika resepnya sudah ada, kenapa sekarang Turki sakit lagi? Jawabannya sederhana: Mereka membuang resep dokternya.
Dalam beberapa tahun terakhir, nilai Lira hancur lebur. Inflasi kembali meroket hingga puluhan persen. Apa penyebabnya?
1. Teori Ekonomi Terbalik (Unorthodox Policy) Di seluruh dunia, rumus ekonomi standar untuk melawan inflasi (kenaikan harga) adalah menaikkan suku bunga. Ibarat mobil yang ngebut (inflasi), suku bunga adalah remnya.
Namun, kepemimpinan Turki dalam beberapa tahun terakhir meyakini hal sebaliknya: "Untuk melawan inflasi, suku bunga harus diturunkan." Ini ibarat mobil sedang ngebut di turunan curam, tapi sopirnya malah menginjak gas, bukan rem. Akibatnya, inflasi makin tidak terkendali.
2. Hilangnya Independensi Bank Sentral Dulu, Bank Sentral bebas menentukan "obat". Sekarang, Gubernur Bank Sentral sering diganti jika tidak menuruti keinginan pemerintah untuk menjaga bunga tetap rendah. Akibatnya, kebijakan moneter disetir oleh politik, bukan oleh data ekonomi.
3. Hilangnya Kepercayaan (Trust) Uang itu pada dasarnya adalah "kertas kepercayaan". Ketika investor dan rakyat melihat bahwa pengelola ekonominya menggunakan teori yang tidak lazim dan sering berubah-ubah, mereka panik. Mereka menjual Lira dan membeli Dolar atau Emas. Ketika semua orang menjual Lira, nilainya pun jatuh bebas.
Kesimpulan: Pelajaran Mahal
Kasus Turki mengajarkan kita satu hal penting tentang uang:
"Redenominasi (potong nol) itu hanyalah kosmetik. Ia bisa mempercantik penampilan, tapi tidak bisa menyembuhkan penyakit dalam."
Dulu Turki berhasil karena kosmetik itu dipadukan dengan gaya hidup sehat (kebijakan ekonomi yang benar). Sekarang, Turki terpuruk karena meskipun wajahnya masih "Lira Baru", organ dalamnya sedang sakit akibat kebijakan yang melawan arus ekonomi global.
Mata uang yang kuat tidak dibangun dari berapa jumlah nol di kertasnya, melainkan dibangun di atas stabilitas politik dan logika ekonomi yang sehat.

Posting Komentar