Bitcoin ke Nol: Mitos atau Ancaman Nyata yang Menyerupai Tulip Mania?
Bitcoin telah menjadi salah satu aset finansial paling kontroversial dalam sejarah modern. Di satu sisi, ia dipuji sebagai "Emas Digital," namun di sisi lain, banyak pakar ekonomi kawakan yang memperingatkan bahwa nilai Bitcoin bisa saja berakhir di angka nol.
Berikut adalah ulasan mendalam namun sederhana mengenai argumen di balik potensi keruntuhan Bitcoin dan hubungannya dengan fenomena sejarah "Tulip Mania."
Fenomena Tulip Mania: Mengapa Bitcoin Sering Disamakan?
Pada abad ke-17 di Belanda, harga umbi bunga tulip melonjak ke tingkat yang tidak masuk akal. Pada puncaknya, satu umbi tulip yang langka bisa setara dengan harga sebuah rumah mewah. Namun, karena tulip tidak memiliki nilai produktif selain keindahannya, orang-orang mulai menyadari bahwa harga tersebut hanyalah hasil spekulasi. Ketika kepercayaan hilang, harga jatuh seketika hingga tidak berharga.
Para kritikus melihat Bitcoin memiliki pola yang sama:
Ketiadaan Nilai Intrinsik: Tulip adalah bunga; Bitcoin adalah kode komputer. Keduanya dianggap tidak menghasilkan apa-apa (seperti dividen atau bunga).
Efek FOMO (Fear of Missing Out): Harga naik karena orang takut ketinggalan, bukan karena kegunaan nyata yang meningkat.
Hanya Bergantung pada "Orang Lain": Nilai Bitcoin ada hanya selama ada orang lain yang mau membelinya dengan harga lebih tinggi (Greater Fool Theory).
Mengapa Bitcoin Bisa Menjadi Nol?
Ada tiga alasan teknis dan ekonomi utama yang sering dikemukakan oleh para ahli:
A. Argumen "Absorbing Barrier" (Penghalang Penyerap)
Kritikus seperti Nassim Taleb berpendapat bahwa jika suatu aset tidak menghasilkan pendapatan (seperti sewa dari properti atau laba dari saham) dan memiliki peluang sekecil apa pun untuk gagal, maka nilai teoritisnya saat ini adalah nol.
Secara matematis, jika kita menganggap P adalah probabilitas Bitcoin menjadi tidak berharga di masa depan karena kegagalan teknologi atau larangan pemerintah, maka dalam jangka panjang:
Artinya, ekspektasi nilai (E[V]) dari aset yang tidak memiliki hasil (yield-free) akan menuju nol jika ia menyentuh titik kegagalan yang permanen.
B. Tekanan Regulasi dan "Pukulan Mematikan" Pemerintah
Mata uang adalah simbol kedaulatan negara. Jika Bitcoin dianggap mengancam kendali pemerintah atas sistem moneter atau digunakan secara masif untuk aktivitas ilegal, pemerintah negara-negara besar (seperti AS, Uni Eropa, atau Tiongkok) bisa melarang konversi Bitcoin ke mata uang fiat (Rupiah/Dolar). Tanpa akses ke sistem perbankan, likuiditas Bitcoin akan lenyap, dan harganya bisa terjun bebas.
C. Keusangan Teknologi
Bitcoin membutuhkan pemeliharaan aktif melalui mining. Jika biaya energi terlalu tinggi atau imbalan penambangan (block reward) tidak lagi mencukupi biaya operasional, jaringan bisa menjadi tidak aman atau berhenti berfungsi. Selain itu, munculnya teknologi baru seperti Komputasi Kuantum di masa depan berpotensi memecahkan enkripsi Bitcoin, membuatnya tidak lagi aman.
Tokoh Ahli yang Menentang Bitcoin
Beberapa nama besar di dunia finansial tetap teguh pada pendirian mereka bahwa Bitcoin adalah gelembung yang berbahaya:
| Tokoh | Jabatan/Keahlian | Argumen Utama |
| Warren Buffett | CEO Berkshire Hathaway | Menyebut Bitcoin sebagai "Racun Tikus Kuadrat" karena tidak memproduksi apa pun. |
| Nassim Nicholas Taleb | Penulis The Black Swan | Mengklaim Bitcoin gagal menjadi mata uang, alat lindung nilai inflasi, ataupun penyimpan nilai. |
| Peter Schiff | Ahli Strategi Global | Pendukung emas yang menyebut Bitcoin sebagai "Tulip Digital" yang tidak memiliki nilai dasar. |
| Steve Hanke | Ekonom Universitas Johns Hopkins | Menilai Bitcoin sebagai aset spekulatif dengan nilai fundamental nol dan volatilitas yang terlalu tinggi. |
Kesimpulan
Meskipun Bitcoin saat ini memiliki nilai pasar triliunan dolar, argumen para ahli di atas mengingatkan kita bahwa dalam dunia investasi, harga tidak selalu mencerminkan nilai. Bitcoin tetap memiliki risiko untuk menjadi nol jika kepercayaan publik hilang secara total atau jika regulasi global menutup pintunya rapat-rapat.
