Kenapa Dunia Crypto Terasa Liar dan Sulit Dipahami Orang Awam?
Pernahkah Anda mengunggah pemikiran mendalam tentang desentralisasi atau masa depan keuangan melalui Bitcoin, namun mendapati linimasa Anda mendadak sepi? Atau mungkin Anda adalah orang yang justru memilih untuk scrolling lebih cepat saat melihat postingan serupa?
Fenomena ini bukan tanpa alasan. Dunia kripto memang dikenal "liar" dan penuh abstraksi. Mari kita bedah secara sederhana mengapa banyak orang cenderung tidak peduli atau bahkan sengaja "pura-pura tidak lihat" saat pembahasan filosofi Bitcoin muncul ke permukaan.
1. "Hambatan Bahasa" yang Terlalu Tinggi
Dunia kripto memiliki bahasanya sendiri. Istilah seperti Proof of Work, Self-Sovereignty, hingga Decentralization terdengar sangat keren bagi para antusias, namun bagi orang awam, itu terdengar seperti bahasa asing yang rumit.
Ketika seseorang membagikan filosofi Bitcoin, mereka seringkali menggunakan istilah teknis yang berat. Secara psikologis, otak manusia cenderung menghindari informasi yang membutuhkan energi besar untuk diproses. Akibatnya, daripada mencoba memahami, orang lebih memilih untuk mengabaikannya.
2. Terhalang oleh "Kegaduhan" Harga
Ini adalah alasan paling klasik. Bitcoin dan aset kripto lainnya dikenal sangat liar karena volatilitas harganya. Bagi masyarakat umum, Bitcoin lebih identik dengan "grafik naik-turun" atau "skema cepat kaya" daripada sebuah sistem keuangan baru.
Saat ada yang bicara soal filosofi moral di balik Bitcoin, audiens seringkali skeptis. Mereka berpikir, "Ah, ini pasti cuma upaya untuk menaikkan harga asetnya saja." Esensi dari Bitcoin sebagai solusi keuangan akhirnya tertutup oleh hiruk-pukuk spekulasi harga.
3. Sesuatu yang Abstrak Sulit untuk Dipercaya
Manusia adalah makhluk visual dan fisik. Kita percaya pada uang kertas karena kita bisa memegangnya, dan kita percaya pada emas karena ia berkilau di tangan.
Bitcoin bersifat digital dan abstrak. Menjelaskan filosofi tentang sesuatu yang tidak bisa disentuh secara fisik kepada orang yang terbiasa dengan sistem konvensional adalah tantangan besar. Bagi banyak orang, berbicara soal filosofi Bitcoin terasa seperti membicarakan "istana di awan"—terdengar indah, tapi tidak nyata.
4. Mekanisme Pertahanan Diri (FOMO dan Ketakutan)
Ada sisi psikologis di mana orang merasa "tertinggal" atau takut salah langkah. Bagi mereka yang tidak mengerti kripto, melihat orang lain bicara soal filosofi Bitcoin bisa menimbulkan rasa tidak nyaman atau rasa rendah diri secara intelektual.
Pura-pura tidak lihat atau bersikap skeptis seringkali menjadi cara bagi seseorang untuk melindungi diri dari rasa bingung atau rasa takut karena tidak menjadi bagian dari perubahan tersebut.
5. Citra Buruk yang Terlanjur Melekat
Sayangnya, dunia kripto juga sering diwarnai dengan berita penipuan (scam) dan kerugian besar. Hal ini menciptakan stigma bahwa apa pun yang berkaitan dengan kripto adalah "area berbahaya".
Maka, sekalipun postingan Anda mengandung nilai filosofis yang sangat mulia, orang luar mungkin sudah memasang tembok pelindung terlebih dahulu karena mereka menyamaratakan semua konten kripto sebagai risiko.
Kesimpulan
Bitcoin memang sebuah inovasi yang radikal, namun cara komunikasinya seringkali masih terlalu eksklusif. Untuk membuat orang peduli, filosofi Bitcoin perlu disampaikan dengan cara yang lebih manusiawi: fokus pada solusi masalah sehari-hari, bukan sekadar teori teknis yang mengawang-awang.
Dunia kripto memang liar, tapi bukan berarti ia tidak bisa dipahami. Hanya saja, kita butuh lebih banyak "penerjemah" yang bisa membawa bahasa langit ini ke bumi.

Posting Komentar