Mengapa Banyak Orang Benci Komunitas Kripto? Ini 5 Alasan Utamanya
Dunia kripto bukan lagi sekadar tren teknologi; ia telah menjadi subkultur tersendiri. Namun, di balik potensi keuntungan yang sering dibicarakan, ada fenomena menarik yang terjadi di permukaan: sentimen negatif atau rasa "tidak suka" dari masyarakat umum terhadap orang-orang yang berkecimpung di dalamnya.
Pernahkah Anda merasa teman yang baru mengenal kripto tiba-tiba berubah cara bicaranya? Atau merasa risih saat melihat unggahan tentang "profit" di media sosial? Anda tidak sendirian. Mari kita bedah secara sederhana mengapa hal ini bisa terjadi.
1. Hambatan Bahasa (Jargon yang Membingungkan)
Salah satu alasan utama adalah cara berkomunikasi. Komunitas kripto memiliki "bahasa planet" sendiri—istilah seperti HODL, FOMO, FUD, WAGMI, hingga Rug Pull.
Bagi orang awam, mendengar percakapan ini terasa seperti berada di tengah perkumpulan rahasia yang eksklusif. Alih-alih merasa tertarik, orang luar justru merasa terasingkan atau bahkan merasa orang kripto itu sok tahu. Ada kesan bahwa "kalau kamu tidak mengerti istilah ini, kamu tertinggal."
2. Gaya "Penginjilan" yang Terlalu Agresif
Ada perbedaan tipis antara berbagi peluang dan memaksa orang lain. Banyak pegiat kripto yang pembawaannya terlalu menggebu-gebu, seolah-olah kripto adalah satu-satunya jalan menuju kekayaan atau masa depan.
Pembawaan yang menyerupai cara pemasaran Multi-Level Marketing (MLM) ini sering membuat orang lain defensif. Ketika setiap percakapan di meja makan atau grup WhatsApp ujung-ujungnya membahas harga koin, orang akan mulai merasa lelah dan memilih untuk menjauh.
3. Citra "Kekayaan Instan" yang Terkesan Dangkal
Di media sosial, sosok orang kripto sering diidentikkan dengan pamer kekayaan (flexing)—mobil mewah, jam tangan mahal, atau tangkapan layar keuntungan yang fantastis.
Bagi masyarakat yang bekerja secara konvensional, pembawaan ini sering dianggap kurang menghargai proses kerja keras yang nyata. Ada persepsi bahwa komunitas ini hanya berisi orang-orang yang "beruntung" dalam spekulasi, bukan karena membangun sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.
4. Ketidakpastian dan Risiko yang Tinggi
Psikologi manusia cenderung skeptis terhadap hal yang tidak stabil. Volatilitas kripto yang ekstrem membuat orang luar melihatnya bukan sebagai investasi, melainkan perjudian.
Ketika seseorang dengan bangga mengajak orang lain masuk ke dunia yang sangat berisiko, dan kemudian pasar jatuh (crash), muncul rasa ketidakpercayaan. Orang yang "benci" kripto sering kali adalah mereka yang melihat temannya merugi besar setelah terhasut oleh pembawaan optimisme buta dari komunitas tersebut.
5. Kurangnya Empati Terhadap Dampak Nyata
Kadang, komunitas kripto terlalu fokus pada angka hingga lupa pada dampak sosial. Misalnya, saat terjadi inflasi besar di sebuah negara, sebagian orang kripto justru merayakannya sebagai bukti "kegagalan uang fiat." Pembawaan yang kurang empati ini membuat mereka terlihat seperti sekumpulan orang yang ingin sistem dunia hancur demi keuntungan pribadi.
Kesimpulan: Pentingnya Menjadi "Manusia" di Balik Teknologi
Kebencian atau rasa risih banyak orang sebenarnya bukan pada teknologinya (Blockchain), melainkan pada pembawaan individunya.
Kripto adalah alat keuangan yang luar biasa, namun ia tidak seharusnya mengubah cara kita bersosialisasi. Jika para penggiat kripto bisa membawa diri dengan lebih rendah hati, menggunakan bahasa yang manusiawi, dan berhenti bersikap seolah-olah mereka memegang kunci kebenaran tunggal, maka jurang pemisah ini perlahan akan hilang.
Dunia finansial memang penting, tapi menjaga hubungan baik dengan sesama tetap jauh lebih berharga daripada grafik hijau di layar ponsel.

Posting Komentar