ZMedia Purwodadi

Mengenal Apa Itu Pasar Gelap: Alasan di Balik Fenomena Tukar Rial Iran ke Dollar

Table of Contents

Belakangan ini, berita mengenai jatuhnya nilai mata uang Rial Iran (IRR) terhadap Dollar Amerika (USD) menjadi sorotan dunia. Di tengah krisis ini, istilah "Pasar Gelap" sering muncul sebagai tempat utama warga menukarkan uang mereka. Namun, apa sebenarnya pasar gelap itu, dan mengapa orang rela mengambil risiko di sana?

1. Apa Itu Pasar Gelap Mata Uang?

Pasar gelap (atau sering disebut parallel market) bukanlah sebuah pasar fisik yang gelap atau menyeramkan. Dalam konteks ekonomi, pasar gelap adalah kegiatan transaksi yang terjadi di luar pengawasan dan regulasi resmi pemerintah.

Bayangkan sebuah toko resmi menjual roti seharga Rp5.000, tapi stoknya selalu habis. Di gang sebelah, ada orang yang menjual roti yang sama seharga Rp20.000 tapi barangnya selalu ada. Gang sebelah itulah "pasar gelap". Dalam hal mata uang, ketika bank sentral tidak mampu menyediakan Dollar bagi warganya, maka muncullah para perantara tidak resmi (pengepul) yang menawarkan Dollar dengan harga yang ditentukan oleh permintaan pasar, bukan aturan pemerintah.

2. Mengapa Memilih Pasar Gelap daripada Bank?

Banyak orang bertanya, "Kenapa tidak tukar di bank saja yang lebih aman?" Di negara yang mengalami krisis seperti Iran, ada dua alasan utama:

  • Perbedaan Kurs (Dual Exchange Rate): Pemerintah Iran menetapkan "Kurs Resmi" yang sangat murah (misalnya sekitar 285.000 Rial per Dollar). Namun, kurs ini hanya bisa diakses oleh segelintir orang atau perusahaan yang punya koneksi ke pemerintah. Warga biasa tidak bisa mendapatkan Dollar dengan harga itu.

  • Kelangkaan Stok: Bank-bank resmi seringkali kehabisan cadangan Dollar karena sanksi internasional dan ekonomi yang lesu. Di pasar gelap, meski harganya sangat mahal (mencapai 1,4 juta Rial per Dollar per Januari 2026), Dollar-nya tersedia dan bisa langsung dibawa pulang.

3. Alasan Warga Iran Menukarkan Rial ke Dollar

Situasi di Iran saat ini menunjukkan bahwa memegang mata uang lokal (Rial) terasa seperti memegang es batu di bawah terik matahari—nilainya terus menyusut setiap jam.

  1. Melindungi Nilai Kekayaan (Store of Value): Dengan inflasi yang melonjak di atas 40-50%, menabung dalam bentuk Rial adalah kerugian besar. Warga menukar ke Dollar karena Dollar dianggap aset yang stabil dan nilainya cenderung naik terhadap Rial.

  2. Kebutuhan Impor dan Kelangsungan Bisnis: Banyak pedagang di pasar (seperti Grand Bazaar Tehran) membutuhkan Dollar untuk membeli barang dari luar negeri (HP, elektronik, bahan baku). Jika mereka tidak punya Dollar, mereka tidak bisa berjualan.

  3. Ketidakpastian Politik: Ketegangan geopolitik dan sanksi baru membuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah menurun. Dalam kondisi tidak menentu, Dollar adalah "jangkar" keamanan finansial paling populer.

4. Risiko di Balik Pasar Gelap

Meski menjadi solusi bagi banyak orang, pasar gelap tetap memiliki risiko besar:

  • Hukum: Di banyak negara, bertransaksi di pasar gelap adalah tindak pidana.

  • Penipuan: Karena tidak ada pengawasan, risiko mendapatkan uang palsu atau dirampok sangat tinggi.

  • Ketidakstabilan Harga: Harga bisa berubah drastis hanya dalam hitungan menit mengikuti isu politik terbaru.

Kesimpulan

Pasar gelap muncul bukan karena keinginan warga untuk melanggar hukum, melainkan sebagai mekanisme bertahan hidup ketika sistem keuangan resmi gagal memenuhi kebutuhan masyarakat. Di Iran, pasar gelap telah menjadi indikator ekonomi yang lebih jujur daripada laporan resmi pemerintah, mencerminkan nilai asli dari sebuah mata uang di mata rakyatnya.

2 komentar

Comment Author Avatar
Tarisa
14 Januari 2026 pukul 11.23 Delete
Kirain cuma ada dark web buat kurs ternyata black market pun ada wkwkwk, tapi sebetulnya itu cuma nuker doang ya berarti secara teknis legal legal aja
Comment Author Avatar
14 Januari 2026 pukul 17.49 Delete
Secara teknis, jawabannya adalah tidak legal.

Meskipun aktivitasnya "hanya menukar uang", berikut adalah alasan mengapa itu dianggap ilegal:

Melanggar Regulasi: Transaksi dilakukan di luar lembaga keuangan resmi (Bank atau Money Changer berizin) yang diawasi pemerintah.

Kurs Tidak Resmi: Menggunakan nilai tukar yang berbeda jauh dari ketetapan Bank Sentral. Di Iran, bertransaksi dengan kurs pasar gelap bisa dianggap sebagai tindakan kriminal atau sabotase ekonomi.

Tanpa Catatan: Transaksi ini tidak tercatat oleh negara, sehingga sering dikaitkan dengan pencucian uang atau pelarian modal ke luar negeri.

Kesimpulannya: Di mata hukum negara tersebut, aktivitas ini ilegal dan pelakunya bisa dipidana, meskipun bagi masyarakat itu adalah cara bertahan hidup.