ZMedia Purwodadi

Sejarah Kelam Crypto: 4 Narasi yang Menipu Investor

Table of Contents

Di balik teknologi blockchain yang revolusioner, terdapat sisi psikologis pasar yang sering kali terjebak dalam angan-angan. Para pelaku pasar menyebutnya sebagai "narasi". Ketika narasi ini terlalu indah untuk menjadi kenyataan, biasanya di situlah risiko terbesar bersembunyi.

Mari kita bedah beberapa narasi populer di masa lalu yang akhirnya runtuh dan meninggalkan luka di industri ini.

1. Narasi "Stock-to-Flow" (S2F): Matematika yang Dianggap Takdir

Beberapa tahun lalu, model Stock-to-Flow (S2F) menjadi sangat populer. Narasi ini menjanjikan bahwa harga Bitcoin bisa diprediksi secara pasti melalui rumus matematika berdasarkan kelangkaannya.

  • Mitosnya: Harga Bitcoin akan selalu naik mengikuti garis lurus menuju ratusan ribu dolar pada waktu tertentu.

  • Kenyataannya: Model ini gagal total saat kondisi ekonomi makro (seperti kenaikan suku bunga) berubah. Narasi ini berbahaya karena membuat investor merasa "pasti untung" dan mengabaikan risiko penurunan harga yang drastis.

2. Narasi "Algorithmic Stablecoin": Uang Ajaib dari Ruang Hampa

Salah satu sejarah paling kelam adalah jatuhnya ekosistem Terra (LUNA) dengan stablecoin-nya, UST. Narasi yang dibangun adalah kita bisa menciptakan mata uang stabil senilai $1 tanpa perlu cadangan uang nyata di bank, melainkan hanya menggunakan algoritma dan kode komputer.

  • Mitosnya: Algoritma lebih hebat dari cadangan fisik. Ini adalah "uang masa depan" yang tidak bisa hancur.

  • Kenyataannya: Saat kepercayaan pasar hilang, algoritma tersebut justru menciptakan "spiral kematian" (death spiral). Dalam hitungan hari, puluhan miliar dolar kekayaan investor hangus karena narasi yang tidak masuk akal secara ekonomi ini.

3. Narasi "Play-to-Earn" (P2E): Main Game Bisa Kaya Selamanya

Pada era 2021, narasi Play-to-Earn (seperti kasus Axie Infinity) meledak. Pesan yang dijual sangat menggiurkan: "Berhentilah bekerja di dunia nyata, cukup main game di rumah dan Anda akan digaji besar."

  • Mitosnya: Ekonomi di dalam game bisa tumbuh selamanya hanya dari pemain yang baru masuk.

  • Kenyataannya: Ini adalah bentuk ekonomi sirkular yang rapuh. Ketika jumlah pemain baru berkurang, harga aset di dalam game anjlok, dan mereka yang menggantungkan hidup pada narasi ini baru menyadari bahwa pendapatan tersebut tidak berkelanjutan.

4. Narasi "The Supercycle": Akhir dari Pasar Bearish

Dahulu, banyak tokoh besar kripto mempopulerkan istilah Supercycle. Mereka mengklaim bahwa kripto sudah sangat diadopsi secara massal sehingga harga tidak akan pernah jatuh 80-90% lagi seperti masa lalu.

  • Mitosnya: Siklus penurunan (bear market) sudah berakhir selamanya. Harga akan terus naik dengan koreksi kecil saja.

  • Kenyataannya: Tahun 2022 membuktikan sebaliknya. Kejatuhan bursa FTX dan kebangkrutan perusahaan pinjaman kripto menunjukkan bahwa siklus pasar tetap ada, dan kesombongan terhadap narasi ini membuat banyak orang tidak siap saat badai datang.

Pelajaran yang Bisa Diambil

Sejarah kelam di atas mengajarkan kita satu hal penting: Di dunia keuangan, tidak ada keajaiban. Narasi sering kali diciptakan oleh mereka yang ingin "keluar" dari pasar dengan harga tinggi (exit liquidity) dengan cara meyakinkan orang lain untuk terus membeli.

Sebagai investor atau pengamat, penting untuk selalu bertanya:

  1. Dari mana asal uangnya?

  2. Apakah ini masuk akal secara logika ekonomi dasar?

  3. Apakah ini inovasi asli, atau hanya tren yang dipaksakan?

Kesimpulan: Teknologi kripto punya masa depan cerah, tapi jangan biarkan narasi-narasi "ajaib" membutakan logika kita. Tetaplah skeptis, lakukan riset mandiri (DYOR), dan ingatlah bahwa sejarah selalu berulang bagi mereka yang melupakan realita.

Posting Komentar