Bitcoin Turun ke $59K Lalu Rebound: Mengapa Harganya Justru Jatuh Lagi?
Pasar kripto baru saja melewati pekan yang sangat menegangkan. Bitcoin (BTC), yang sempat berjaya di angka $126.000 pada Oktober 2025 lalu, tiba-tiba harus berjuang di area $59.000 - $62.000. Mengapa pergerakannya begitu liar? Mari kita bedah satu per satu.
1. Mengapa Sempat Menyentuh $59.000?
Penurunan drastis dari area $70.000-an ke bawah $60.000 dipicu oleh kombinasi "badai" berita negatif:
Pupusnya Harapan "Cadangan Negara": Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan bahwa pemerintah tidak memiliki kewenangan untuk menjadikan Bitcoin sebagai aset cadangan strategis. Ini mendinginkan hype politik yang sempat memicu kenaikan harga sebelumnya.
Efek "Angpao" (Imlek): Menjelang Tahun Baru Imlek 2026 (Tahun Kuda Api), banyak investor di Asia melakukan aksi jual besar-besaran untuk kebutuhan uang tunai (cash out). Secara historis, ini memang siklus rutin, namun kali ini tekanannya lebih besar.
Likuidasi Massal: Ketika harga menembus level psikologis $70.000, banyak sistem perdagangan otomatis (bot) langsung melakukan jual paksa (stop-loss), yang memicu efek domino hingga harga terseret ke area $59.000.
2. Kenapa Sempat "Rebound" ke $70.000?
Setelah jatuh ke $59.000, Bitcoin sempat menunjukkan "taringnya" kembali dengan melompat ke angka $71.000 dalam waktu singkat. Penyebabnya adalah:
Penyelamatan dari Wall Street: Pasar saham Amerika Serikat (S&P 500 dan Nasdaq) mengalami reli kuat berkat performa gemilang saham teknologi seperti Nvidia. Karena investor melihat saham naik, mereka kembali berani mengambil risiko di Bitcoin.
Aksi "Buy the Dip": Banyak investor institusi merasa harga di bawah $60.000 sudah terlalu murah (undervalued), sehingga mereka mulai memborong kembali, yang mendorong harga naik drastis dalam satu malam.
3. Kenapa Setelah Naik, Lanjut Turun Drastis Lagi?
Sayangnya, kenaikan tersebut sering disebut sebagai "Dead Cat Bounce" (pantulan sementara sebelum jatuh lebih dalam). Berikut alasannya:
Aksi "Jual di Pucuk" dari Investor Nyangkut: Banyak pemegang ETF Bitcoin yang membeli di harga rata-rata $90.000-an merasa takut harga akan turun lagi. Begitu harga naik ke $70.000, mereka justru memanfaatkannya untuk keluar dari pasar (exit liquidity) guna meminimalkan kerugian.
Ketidakpastian FOMC: Investor masih cemas menunggu arah kebijakan suku bunga dari bank sentral AS (The Fed). Ketidakpastian ini membuat modal besar lebih memilih "parkir" di aset yang lebih aman seperti emas.
Saturasi Pasar: Jumlah token baru di pasar kripto melonjak drastis (mencapai 29 juta token di 2026). Ini membuat aliran uang investor terpecah-pecah, sehingga Bitcoin kekurangan tenaga untuk mempertahankan kenaikannya.
Kesimpulan untuk Anda
Secara sederhana, Bitcoin saat ini sedang dalam fase "pencarian harga baru" setelah euforia puncaknya tahun lalu berakhir. Pasar sedang membersihkan sisa-sisa spekulasi berlebih.
Apa yang harus diperhatikan selanjutnya? Para analis kini memantau area $50.000 - $56.000. Jika Bitcoin mampu bertahan di sana, ada harapan untuk pemulihan di kuartal kedua 2026. Namun, jika jebol, kita mungkin akan melihat fase konsolidasi yang lebih panjang.
