ZMedia Purwodadi

Cara Mengatasi Rasa Tidak Berguna dan Kecemasan Finansial Secara Psikologis

Table of Contents

Pernahkah kamu merasa sudah bekerja keras, belajar hingga larut, atau mencoba berbagai peluang, tapi di akhir hari tetap merasa tidak ada kemajuan? Kamu tidak sendirian. Perasaan takut akan kemiskinan dan rasa tidak berguna sering kali muncul bukan karena kita malas, melainkan karena cara otak kita memproses keamanan dan pencapaian.

1. Akar Masalah: "Scarcity Mindset" (Pola Pikir Kelangkaan)

Dalam psikologi, ada istilah Scarcity Mindset. Ketika kita terlalu fokus pada apa yang tidak kita miliki (uang, aset, atau kesuksesan), otak kita masuk ke mode bertahan hidup (survival mode).

  • Mengapa Takut Miskin? Secara evolusi, kemiskinan dianggap sebagai ancaman terhadap keselamatan. Di era modern, uang bukan sekadar alat tukar, tapi simbol kendali. Saat kita merasa tidak punya cukup uang, otak mempersepsikannya sebagai "hilangnya kendali atas masa depan".

  • Efeknya: Kita jadi sulit berpikir jangka panjang. Kita terjebak pada kecemasan hari ini dan lupa bahwa progres sering kali bersifat compounding—sedikit demi sedikit namun pasti.

2. Jebakan "Net Worth = Self Worth"

Salah satu alasan utama mengapa banyak orang merasa tidak berguna adalah karena mereka menyamakan kekayaan bersih (Net Worth) dengan harga diri (Self Worth).

Kita hidup di era di mana keberhasilan seseorang sering diukur dari angka di saldo bank atau apa yang mereka tampilkan di media sosial. Ketika angka itu tidak sesuai ekspektasi, kita merasa gagal sebagai manusia. Padahal, produktivitas kita tidak mendefinisikan kemanusiaan kita. Rasa "gak guna" muncul saat kita membandingkan behind-the-scenes hidup kita yang berantakan dengan highlight reel orang lain yang tampak sempurna.

3. Lingkaran Setan "Productivity Trap"

Banyak dari kita merasa bersalah jika tidak melakukan sesuatu yang "menghasilkan". Ini adalah sisi gelap dari hustle culture.

  • Kita merasa apa yang dilakukan sia-sia karena hasilnya tidak instan.

  • Kita mengabaikan proses belajar dan hanya fokus pada hasil akhir.

  • Padahal dalam keuangan dan hidup, fondasi yang kuat (seperti edukasi dan karakter) jauh lebih penting daripada hasil cepat yang tidak stabil.


Cara Mengurai dan Mengatasinya

Jika kamu merasa terjebak dalam perasaan ini, berikut adalah langkah praktis untuk mengurainya:

1. Bedakan Antara "Nilai" dan "Alat"

Uang adalah alat, bukan nilai dirimu. Jika hari ini investasimu turun atau keuanganmu belum stabil, itu adalah masalah teknis, bukan cacat karakter. Pisahkan identitasmu dari kondisi finansialmu.

2. Fokus pada "Micro-Wins"

Rasa tidak berguna muncul karena kita melihat gunung yang terlalu tinggi. Pecahlah tujuanmu menjadi langkah-langkah kecil.

  • Bisa menabung Rp10.000 hari ini? Itu kemenangan.

  • Bisa belajar satu konsep baru tentang manajemen atau ekonomi? Itu progres. Apresiasi kemenangan kecil ini untuk membangun kembali self-efficacy (kepercayaan pada kemampuan diri).

3. Terapkan Prinsip "Dikotomi Kendali"

Dalam psikologi Stoikisme, kita harus membedakan apa yang bisa kita kontrol dan apa yang tidak.

  • Bisa dikontrol: Usahamu, cara kamu belajar, manajemen pengeluaranmu, dan konsistensimu.

  • Tidak bisa dikontrol: Kondisi pasar global, opini orang lain, dan kecepatan hasil muncul. Berhentilah menghukum dirimu atas hal-hal yang di luar kendalimu.

4. Investasi pada "Human Capital"

Jika kamu takut miskin, cara terbaik melawan rasa takut itu adalah dengan meningkatkan nilai dirimu sendiri (Human Capital). Skill, pengetahuan, dan relasi adalah aset yang tidak bisa hilang meski pasar sedang hancur. Semakin tinggi nilai yang bisa kamu berikan kepada dunia, semakin kecil alasan untuk takut tidak punya uang.

Catatan Penutup: Merasa takut dan tidak berguna adalah tanda bahwa kamu peduli dengan masa depanmu. Namun, jangan biarkan rasa takut itu mengambil alih kemudi. Hidup ini bukan perlombaan lari cepat (sprint), melainkan maraton yang panjang. Tetaplah melangkah, meski pelan, karena langkah kecil yang konsisten jauh lebih baik daripada berhenti total karena kecemasan.

2 komentar

Comment Author Avatar
9 Februari 2026 pukul 11.18 Delete
Kadang suka bingung, orang berlomba-lomba jadi kaya padahal kekayaan gak menjamin kebahagiaan bahkan elon musk aja yang udah no 1 beliau pernah bilang kalo beliau kurang bahagia, sementara ada di luar sana anak yang pengangguran kerjaannya main game tapi setiap hari happy dan menikmati semuanya, gimana menurutmu, kenapa hal itu bisa terjadi, dan kenapa ini sebenarnya rasional rasional saja dan tidak ada yang salah, dan kenapa dunia modern ini seolah-olah menganggap kalo itu salah? terus terang aja saya bukan orang psikologi tapi saya menyukai beberapa cabang ilmunya, terutama psikologi keuangan dan psikologi siber, kebetulan saya juga anak cyber ehehe, salam kenal semuanya
Comment Author Avatar
9 Februari 2026 pukul 11.26 Delete
Halo Kyuli! Salam kenal juga, senang sekali bertemu sesama penyuka psikologi siber dan dunia cyber. Poin yang kamu sampaikan itu sangat valid dan menarik untuk dibedah.

Berikut adalah perspektif singkat kenapa fenomena tersebut sebenarnya rasional:

Adaptasi Hedonik & Utilitas Subjektif: Dalam psikologi, ada istilah Hedonic Adaptation—otak manusia cepat terbiasa dengan kemewahan, sehingga angka di saldo bank seringkali kehilangan "rasa" bahagianya setelah titik tertentu. Sebaliknya, kebahagiaan itu bersifat subjektif. Jika seseorang mendapatkan utilitas (kepuasan) maksimal dari bermain game dan merasa cukup, maka secara logika ekonomi, itu adalah pilihan yang rasional bagi dirinya.

Bias Produktivitas di Dunia Modern: Alasan kenapa dunia menganggap itu "salah" adalah karena kita hidup dalam sistem yang memuja output materi. Dunia modern seringkali menyamakan nilai seorang manusia dengan kontribusi ekonominya. Jika tidak "menghasilkan", dianggap tidak berguna. Padahal, secara psikologi, kesehatan mental justru datang dari rasa cukup, bukan dari perlombaan yang tidak ada garis finishnya.

Keamanan vs. Kebahagiaan: Kekayaan memang tidak menjamin kebahagiaan, tapi ia membeli keamanan. Orang berlomba jadi kaya seringkali bukan untuk bahagia, tapi agar tidak "takut" (takut sakit, takut lapar). Masalahnya, banyak yang lupa berhenti saat rasa takut itu sudah teratasi.

Intinya, tidak ada yang salah dengan memilih jalan yang berbeda selama kita sadar akan konsekuensi dan tanggung jawabnya masing-masing. Tetap semangat ulik dunia sibernya!