ZMedia Purwodadi

Memahami Hierarki Kebutuhan Maslow dalam Perspektif Ekonomi Mikro

Table of Contents

Dalam dunia ekonomi, kita sering belajar tentang bagaimana manusia mengalokasikan sumber daya yang terbatas untuk memenuhi keinginan yang tidak terbatas. Namun, apa yang sebenarnya mendorong keinginan tersebut?

Salah satu teori psikologi yang paling relevan untuk membedah perilaku konsumen dalam ekonomi mikro adalah Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow. Jika kita melihatnya melalui lensa ekonomi, setiap tingkatan kebutuhan ini mencerminkan bagaimana individu membuat keputusan konsumsi berdasarkan prioritas dan tingkat pendapatan.

Berikut adalah penjelasan 5 kebutuhan manusia menurut Maslow dalam sudut pandang ekonomi mikro:

1. Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs)

Dalam ekonomi mikro, ini adalah kebutuhan dasar atau basic goods. Ini mencakup makanan, air, dan tempat tinggal.

  • Sudut Pandang Ekonomi: Barang-barang di level ini biasanya bersifat inelastis. Artinya, meskipun harga naik, orang akan tetap berusaha membelinya karena sangat diperlukan untuk bertahan hidup.

  • Contoh: Sebelum seseorang memikirkan investasi atau gaya hidup, fokus utama pendapatannya akan dialokasikan untuk membeli kebutuhan pokok (sembako) dan membayar tempat tinggal.

2. Kebutuhan Keamanan (Safety Needs)

Setelah perut kenyang, manusia mulai memikirkan masa depan. Dalam ekonomi, ini berkaitan dengan manajemen risiko dan utilitas jangka panjang.

  • Sudut Pandang Ekonomi: Di sinilah muncul permintaan terhadap produk-produk seperti asuransi, tabungan, dan keamanan kerja. Individu mulai menyisihkan sebagian pendapatannya (marginal propensity to save) untuk melindungi diri dari ketidakpastian ekonomi di masa depan.

  • Contoh: Membeli polis asuransi kesehatan atau memilih menyimpan uang di bank yang terjamin keamanannya.

3. Kebutuhan Sosial (Social Needs)

Manusia adalah makhluk sosial. Dalam ekonomi mikro, kebutuhan ini sering tercermin dalam pola konsumsi kelompok.

  • Sudut Pandang Ekonomi: Kebutuhan ini mendorong pengeluaran untuk barang atau jasa yang memfasilitasi interaksi sosial. Ini bisa berupa pengeluaran untuk komunikasi, transportasi untuk bertemu teman, atau hobi kelompok. Konsumsi di sini sering kali dipengaruhi oleh tren atau lingkungan sekitar.

  • Contoh: Biaya langganan internet agar tetap terhubung atau anggaran untuk nongkrong di kafe bersama rekan sejawat.

4. Kebutuhan Penghargaan (Esteem Needs)

Pada level ini, konsumsi tidak lagi sekadar tentang fungsi, tetapi tentang status dan pengakuan.

  • Sudut Pandang Ekonomi: Di sinilah kita mengenal konsep Barang Veblen (barang mewah). Individu bersedia membayar lebih mahal untuk merek tertentu guna menunjukkan posisi sosial atau kesuksesan mereka. Kepuasan (utility) yang didapat bukan hanya dari kegunaan barang, tapi dari gengsi yang menyertainya.

  • Contoh: Memilih membeli jam tangan mewah atau smartphone flagship terbaru meskipun fungsi dasarnya sama dengan merek yang lebih murah.

5. Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self-Actualization)

Ini adalah puncak dari hierarki Maslow, di mana individu berusaha mencapai potensi penuh mereka.

  • Sudut Pandang Ekonomi: Dalam ekonomi mikro, ini sering dikaitkan dengan investasi pada Modal Manusia (Human Capital). Orang menghabiskan sumber daya mereka untuk pengembangan diri, pendidikan lanjutan, atau kreativitas tanpa terlalu memedulikan imbalan materi secara langsung.

  • Contoh: Mengambil kursus keahlian baru, melakukan perjalanan edukatif, atau memulai bisnis berdasarkan passion pribadi.

Kesimpulan

Memahami Hierarki Maslow membantu kita melihat bahwa pilihan konsumen dalam ekonomi mikro tidaklah acak. Pendapatan seseorang biasanya akan mengalir dari tingkat bawah ke atas. Semakin tinggi tingkat ekonomi seseorang, maka pola konsumsinya akan bergeser dari sekadar memenuhi kebutuhan fisik menuju pencapaian aktualisasi diri.

6 komentar

Comment Author Avatar
4 Februari 2026 pukul 11.21 Delete
Perspektifnya menarik sih dari ilmu psikologi diterapin di ekonomi mikro, mau nanya aja sih ini ringan aja sebenarnya, gimana kalau piramida Maslow dibalik? kebutuhan aktualisasi diri dulu, fisiologis belakangan?
Comment Author Avatar
4 Februari 2026 pukul 11.24 Delete
Pertanyaan yang sangat reflektif, Kyuli! Jika hierarkinya dibalik, kita sedang melihat fenomena Subjektivitas Utilitas dalam ekonomi mikro.

Secara teori, setiap individu memiliki 'skala preferensi' yang unik. Ada kondisi di mana seseorang rela mengorbankan kenyamanan fisik (fisiologis) demi mengejar visi atau nilai hidup (aktualisasi diri, mirip dengan profil entrepreneur yang sedang merintis atau seniman idealis.

Dalam kacamata ekonomi, ini berarti kepuasan batin yang didapat dari aktualisasi diri dianggap memiliki nilai (utility) yang lebih tinggi daripada kebutuhan dasar pada saat itu. Jadi, meskipun piramida Maslow adalah pola umum, pada praktiknya ia sangat fleksibel tergantung pada prioritas dan 'biaya peluang' (opportunity cost) yang siap diambil oleh individu tersebut.
Comment Author Avatar
4 Februari 2026 pukul 11.27 Delete
Kenapa dalam sudut pandang mikro, kadang orang bisa bahagia hanya minum kopi sachetan tapi kadang ada orang yang harus ke cafe baru bahagia, kenapa bisa begitu, dan kenapa orang yang bisa bahagia dengan hal hal sederhana cenderung lebih bahagia, saya aja kadang bingung kenapa orang gak bisa bahagia dengan cara yang sederhana, padahal dengan merayakan itu kita bisa tetap waras di era gempuran sosmed yang serba instan dan serba flexing
Comment Author Avatar
4 Februari 2026 pukul 11.30 Delete
Wah, ini pertanyaan yang sangat dalam, Tegar! Dalam ekonomi mikro, fenomena ini bisa kita bedah melalui beberapa konsep kunci:

1. Utilitas Subjektif (Subjective Utility)
Dalam ekonomi, kepuasan (utility) itu tidak memiliki standar angka yang sama bagi setiap orang. Bagi si peminum kopi sachet, nilai kegunaan kopi adalah fungsi utamanya: kafein dan rasa manis. Namun, bagi mereka yang harus ke kafe, yang mereka beli bukan hanya 'cairan hitam', melainkan 'Barang Jasa Pengalaman'. Mereka membayar untuk suasana, Wi-Fi, hingga status sosial (Veblen Effect). Jadi, sebenarnya mereka membeli komoditas yang berbeda meski judulnya sama-sama kopi.

2. Biaya Peluang dan Kebahagiaan (Marginal Cost of Happiness)
Kenapa orang yang sederhana cenderung lebih bahagia? Secara mikro, mereka memiliki 'Biaya Marginal' yang rendah untuk bahagia. Jika standar bahagia kita adalah hal-hal sederhana, maka ambang batas kepuasan kita mudah tercapai. Sebaliknya, orang yang terbiasa dengan konsumsi tinggi sering terjebak dalam Hedonic Treadmill—di mana mereka harus terus meningkatkan level konsumsi hanya untuk mendapatkan tingkat kebahagiaan yang sama.

3. Ekonomi Informasi & 'Flexing'
Di era sosmed, terjadi 'asimetri informasi'. Kita sering melihat 'puncak' hidup orang lain (flexing) dan menjadikannya standar konsumsi kita. Padahal, dalam ekonomi mikro, konsumsi yang sehat adalah yang sesuai dengan Budget Constraint (batasan anggaran) dan preferensi pribadi, bukan karena tekanan eksternal.

Kesimpulannya: Menjadi bahagia dengan cara sederhana adalah strategi ekonomi yang paling efisien. Kita memaksimalkan kepuasan tanpa harus memperbesar pengeluaran secara gila-gilaan. Merayakan hal kecil adalah cara terbaik untuk menjaga 'kesehatan neraca mental' kita di tengah gempuran tren yang serba instan.
Comment Author Avatar
Waguri Chan
4 Februari 2026 pukul 11.34 Delete
Impresif saya bacanya, tapi kayaknya topik ini terlalu umum gak sih dan sering muncul beberapa kali di buku, saya sebetulnya suka suka aja, tapi sepertinya banyak yang kurang antusias dengan topik ini, oiya menurutmu kenapa majalah besar kayak tempo jarang membahas ekonomi mikro ya apakah ada faktor tertentu atau karena uangnya kurang besar dari sana?
Comment Author Avatar
4 Februari 2026 pukul 11.39 Delete
Kritik yang sangat tajam, Waguri! Kamu benar, topik Maslow dan ekonomi mikro dasar sering kali terasa seperti 'menu wajib' yang diulang-ulang. Berikut adalah bedah realitasnya dari sisi industri media dan akademis:

1. Kenapa Topiknya Terasa 'Umum'?
Teori Maslow dalam ekonomi mikro adalah gateway drug atau pintu masuk paling mudah untuk menjelaskan perilaku manusia yang rumit. Buku teks memakainya karena ia memberikan kerangka yang rapi. Namun, bagi pembaca yang sudah haus akan analisis yang lebih dalam (seperti kamu), ini memang akan terasa membosankan karena kurang membahas anomali pasar atau ekonomi perilaku yang lebih modern.

2. Kenapa Media Besar seperti Tempo Jarang Membahas Mikro?
Ada beberapa alasan strategis di balik ini:

Skala 'High Stakes' (Taruhan Tinggi): Media seperti Tempo lebih condong ke Ekonomi Makro dan Ekonomi Politik. Mengapa? Karena kebijakan makro (seperti kenaikan pajak, suku bunga, atau korupsi APBN) dampaknya sistemik ke jutaan orang. Isu mikro seperti 'cara individu memilih deterjen' dianggap kurang memiliki nilai berita (newsworthiness) yang bombastis untuk dijadikan laporan utama.

Faktor Kekuasaan (Power): Di mana ada uang besar dan kekuasaan, di situ ada jurnalisme investigasi. Ekonomi makro adalah tentang bagaimana negara mengelola ribuan triliun rupiah. Ekonomi mikro sering kali dianggap sebagai 'urusan privat' perusahaan atau individu, kecuali jika ada praktik monopoli atau kartel besar.

Siklus Berita: Ekonomi makro bergerak cepat dan penuh drama politik. Ekonomi mikro cenderung stabil dan bersifat teoritis-akademis, sehingga sulit untuk dibuat menjadi berita harian yang 'panas'.

3. Apakah Karena Uangnya Kurang Besar?
Bisa jadi. Iklan dan sponsor di media besar biasanya datang dari korporasi atau institusi yang lebih tertarik pada tren pasar global dan kebijakan negara. Membahas teori mikro secara mendalam sering kali dianggap terlalu 'segmented' dan kurang menjual secara komersial dibandingkan pembahasan tentang krisis energi atau pergerakan bursa saham.

Singkatnya: Ekonomi mikro adalah 'fondasi', sementara ekonomi makro adalah 'panggung'. Orang lebih sering melihat panggungnya daripada memperhatikan batu bata di fondasinya. Tapi ingat, tanpa memahami mikro (fondasi), kita tidak akan pernah bisa membaca panggung (makro) dengan benar.