Mengapa 89% Orang Kaya Dunia Masih Enggan Beli Bitcoin? Ini Kata JPMorgan
Dunia kripto sering kali diwarnai dengan berita tentang "adopsi institusional" dan bagaimana miliarder mulai melirik Bitcoin. Namun, laporan terbaru dari JPMorgan Private Bank memberikan gambaran yang cukup mengejutkan dan realistis mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu kantor-kantor pengelola kekayaan orang paling tajir di dunia (Family Office).
Berdasarkan laporan bertajuk 2026 Global Family Office Report, JPMorgan mensurvei 333 Family Office di 30 negara dengan rata-rata kekayaan mencapai USD 1,6 miliar (sekitar Rp25 triliun) per keluarga. Apa hasilnya? Mari kita bedah dengan bahasa yang sederhana.
1. Angka Mengejutkan: 89% Masih "Skeptis"
Meskipun Bitcoin sering mencetak rekor harga baru dan menjadi perbincangan hangat, mayoritas orang super kaya ternyata masih menjaga jarak. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa 89% dari Family Office global sama sekali tidak memiliki investasi di aset kripto.
Bahkan, rata-rata alokasi dana mereka ke aset digital hanya sebesar 0,4% dari total portofolio, dengan Bitcoin hanya menyumbang sekitar 0,2%. Artinya, meskipun mereka punya uang sangat banyak, hanya secuil kecil yang mereka berani "pertaruhkan" di dunia kripto.
2. Duel Popularitas: AI Menang Telak atas Kripto
Jika Anda bertanya pada pengelola kekayaan ini tentang tren masa depan, jawabannya bukan "Bitcoin", melainkan Artificial Intelligence (AI).
65% dari mereka memprioritaskan investasi di sektor AI.
Hanya 17% yang menganggap aset digital sebagai tema investasi penting di masa depan.
Bagi mereka, AI dianggap memiliki pondasi bisnis yang lebih jelas dibandingkan kripto yang masih sering dianggap sebagai aset spekulatif.
3. Mengapa Mereka Masih Ragu?
Ada beberapa alasan utama mengapa para "Sultan" ini belum mau jor-joran masuk ke Bitcoin:
Volatilitas Tinggi: Naik turunnya harga yang drastis masih menjadi momok bagi mereka yang mengutamakan pelestarian kekayaan jangka panjang.
Masalah Regulasi: Aturan yang masih berubah-ubah membuat mereka memilih untuk menunggu hingga ekosistemnya benar-benar matang.
Korelasi yang Tidak Stabil: Mereka awalnya berharap kripto bisa menjadi pelindung nilai (seperti emas), namun faktanya harga kripto sering kali bergerak seirama dengan saham teknologi yang berisiko tinggi.
4. Tidak Hanya Kripto, Emas Pun Dijauhi
Menariknya, sikap konservatif ini tidak hanya berlaku untuk Bitcoin. Laporan JPMorgan juga mencatat bahwa 72% dari mereka tidak memiliki eksposur pada emas. Sebaliknya, mereka lebih suka memarkir uang mereka di investasi alternatif yang lebih nyata seperti Private Equity (saham perusahaan non-publik), real estat, dan Hedge Funds.
Kesimpulan: Masa Depan Tetap Ada, Tapi Perlahan
Meskipun angka 89% terlihat besar, bukan berarti pintu sudah tertutup. Ada transisi kecil dari mereka yang awalnya hanya "bereksperimen" menjadi investor yang lebih sistematis, meski jumlahnya masih sedikit.
Laporan ini mengingatkan kita bahwa bagi para pengelola kekayaan triliunan rupiah, keamanan dan stabilitas jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti tren. Bitcoin mungkin adalah masa depan, tapi bagi mereka, masa depan itu harus dibuktikan dengan regulasi yang kuat dan risiko yang lebih terukur.
Jadi, jika Anda merasa ketinggalan kereta Bitcoin, ingatlah: sebagian besar orang terkaya di dunia bahkan belum naik ke kereta tersebut!
