Bus Diesel Mau Punah? Ini Alasan Transjakarta Beralih ke Listrik

Daftar Isi

Bagi warga Jakarta yang setiap hari beraktivitas menembus kemacetan ibu kota, kehadiran bus Transjakarta bukan lagi hal yang asing. Sebagai jaringan bus raya terpadu (Bus Rapid Transit/BRT) terpanjang di dunia, Transjakarta berhasil melayani hingga 413 juta pelanggan sepanjang tahun 2025 dengan jangkauan wilayah mencapai 92,4%.

Namun, ada pemandangan yang kian menarik di jalanan Jakarta: bus-bus baru yang melaju tanpa suara bising, tanpa kepulan asap hitam, dan berlantai rendah sehingga sangat mudah dinaiki. Inilah bus listrik berbasis baterai (Battery Electric Bus/BEB) buatan BYD yang dioperasikan oleh operator legendaris PT Mayasari Bakti.

Bukan sekadar peremajaan armada, kehadiran bus listrik ini membawa angin segar bagi efisiensi anggaran daerah, kesehatan udara kota, hingga kenyamanan para pengguna transportasi umum.

Mengapa Bus Listrik BYD Terasa Jauh Berbeda?

Jika diibaratkan, membandingkan bus listrik dengan bus diesel konvensional mirip seperti membandingkan laptop modern hemat energi dengan mesin genset tua yang berisik dan boros bahan bakar. Mesin genset membuang banyak energi menjadi panas dan getaran, sedangkan motor listrik mengalirkan energinya langsung ke roda dengan sangat efisien.

Beberapa keunggulan nyata yang langsung dirasakan di antaranya:

  • Senyap dan Bebas Asap: Tingkat kebisingan kabin berkurang hingga 28%. Tidak ada lagi deru mesin yang memekakkan telinga ataupun bau asap solar.

  • Lantai Rendah (Low Entry): Pintu masuk bus dirancang sejajar dengan trotoar jalan. Penumpang tidak perlu menaiki tangga tinggi, sehingga ramah bagi lansia, anak-anak, ibu hamil, maupun pengguna kursi roda.

  • Kenyamanan Kabin: Dilengkapi AC bertenaga listrik yang sejuk, port charger USB di setiap baris kursi, fasilitas Wi-Fi, dan kamera CCTV pengawas keselamatan dengan daya tampung hingga 60 penumpang.

  • Baterai Tangguh: Dibekali baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) berkapasitas sekitar 322–324 kWh yang mampu menempuh jarak 180 hingga 250 km dalam sekali pengisian penuh—cukup untuk operasional harian selama 10–17 jam.

Hitung-Hitungan Ekonomi: Mengapa Bus Listrik Jauh Lebih Menguntungkan?

Membeli bus listrik memang membutuhkan modal awal (CAPEX) yang lebih tinggi dibanding bus diesel biasa. Namun, biaya operasional hariannya (OPEX) ternyata jauh lebih murah.

Analoginya seperti beralih dari printer murah tetapi tintanya sangat mahal, ke printer hemat energi yang biaya cetak per lembarnya sangat murah. Dalam jangka panjang, total biaya pengeluarannya justru jauh lebih hemat.

Aspek PerbandinganBus Diesel KonvensionalBus Listrik BYD K9Penghematan / Keuntungan
Biaya Energi per KmRp3.400 / kmRp800 / kmHemat Rp204 Juta per bus/tahun
Biaya Perawatan per KmRp5.400 / kmRp2.600 / kmHemat Rp219,7 Juta per bus/tahun
Beban Subsidi BBM NegaraMemakai ~39.238 liter solar/thn

0 liter solar (Nihil BBM)

Pangkas beban subsidi Rp302 Juta per bus/tahun
Total Tabungan (5,5 Tahun)Hemat ~Rp3,99 Miliar per bus (setara harga 1 bus baru!)

Selain penghematan biaya, peralihan ini juga berdampak pada keselamatan: tingkat kecelakaan armada Transjakarta turun hingga 40% dalam tiga tahun terakhir. Karakter motor listrik yang halus dan tanpa hentakan gigi transmisi membuat pengemudi tidak cepat lelah saat bertugas.

Sentuhan Karoseri Lokal dan Dukungan Industri Dalam Negeri

Bus listrik ini tidak sepenuhnya diimpor utuh. Melalui kemitraan strategis antara BYD Auto dan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (grup Bakrie), perakitan dialihkan secara lokal dengan menggandeng karoseri kebanggaan tanah air, seperti Karoseri Laksana di Jawa Tengah yang merancang bodi E-Cityline 3.

Langkah ini berhasil mendongkrak Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) hingga di atas 40%, yang membuka lapangan kerja bernilai tambah tinggi bagi tenaga kerja lokal.

Belajar dari Sukses Rute 7A: Kampung Rambutan – Lebak Bulus

Salah satu contoh sukses penerapan bus listrik di lapangan adalah pada Rute Pengumpan (Feeder) 7A. Rute ini dapat diibaratkan sebagai "pembuluh darah" penghubung antarmoda yang menyatukan dua titik rel besar di Jakarta:

  1. LRT Jabodebek di sisi timur (Stasiun Kampung Rambutan).

  2. MRT Jakarta di sisi selatan (Stasiun Lebak Bulus & Fatmawati).

Melewati koridor perkantoran TB Simatupang dengan 32–33 titik perhentian (seperti RSUD Pasar Rebo, perkantoran Simatupang, hingga Citos), rute ini melayani sekitar 4.829 penumpang setiap hari dengan waktu kedatangan bus tiap 8–12 menit.

Dahulu, rute ini menggunakan bus bertangga tinggi yang kurang praktis. Kini, dengan bus listrik berlantai rendah, warga dapat langsung melangkah naik dari trotoar dengan cepat, hening, dan nyaman.

Kesiapan Pengisian Daya di Depot Cibubur

Untuk menjaga 52 unit armada bus listrik tetap bugar setiap hari, PT Mayasari Bakti menyulap Depot Cibubur menjadi pusat pengisian daya (EV Charging Hub) modern berkapasitas listrik 2,5 MVA dengan 10 unit ultra-fast charger berdaya 200 kWh.

Hanya butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk mengisi baterai bus hingga penuh. Saat bus kembali ke depot pada malam hari, pengisian daya cepat memastikan seluruh bus sudah siap kembali melayani warga mulai pukul 05.00 pagi.

Menatap Masa Depan Jakarta yang Lebih Hijau

Transformasi armada Transjakarta membuktikan bahwa modernisasi transportasi umum tidak hanya membuat kota terlihat rapi, tetapi juga membawa efisiensi anggaran yang nyata bagi pemerintah serta udara yang lebih bersih bagi masyarakat.

Dengan target ambisius mencapai 50% armada listrik pada 2027 dan 100% armada listrik (sekitar 10.047 unit bus) pada tahun 2030, Jakarta sedang melangkah pasti menuju era transportasi masa depan: modern, inklusif, dan bebas polusi.

Posting Komentar